Persfektif | Histeria Pengumuman UN

Wah akhirnya blopini menyempatkan untuk menulis tentang begitu banyaknya perhatian yang diberikan kepada dunia pendidikan terkhusus tentang UN “Ujian Nasional” yang dilaksanakan.

sesuai dengan judul “Histeria Pengumuman UN” maka blopini ingin mengangkat tentang apa yang terjadi pada saat pengumuman dan setelahnya beserta persfektif/sudut pandang blopini menanggapi fenomena ini.

Hari ini diumumkan serentak oleh Dinas Pendidikan Indonesia hasil “jerih payah Guru dalam mengajar dan Siswa dalam belajar” Ujian Nasional seluruh SMU/SMK se-Indonesia yang semua dapat ditemukan infonya di Klik Disini.

Oke lansung saja yach!!

Siswa-siswi seluruh Indonesia tidak terkecuali para orang tua dan guru sebagai pengajar tentu akan menaruh perhatian tinggi dan yang pasti harapan yang sangat besar untuk bisa lulus pada saat pengumuman Ujian Nasional “UN” yang memang dilaksanakan setiap tahun sebagai alat pengukur/parameter/pembanding bagi dunia pendidikan di Indonesia agar dapat mengetahui sudah sampai dimana program pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan berhasilkah atau gagal?? apalagi dunia pendidikan telah diberikan pos yang tidak sedikit dari APBN yaitu berkisar 20%.
Namun begitu dahsyatnya histeria yang ditimbulkan oleh sebuah kegiatan yang bernama UN ini mulai dari corat-coret baju, konvoi kendaraan, sampai pada usaha bunuh diri oleh siswa-siswi yang dinyatakan “lulus” maupun “tidak lulus”, untuk histeria “usaha bunuh diri” ini menimbulkan pendapat kontra atau ketidaksetujuan UN dilaksanakan sebagai tolak ukur oleh beberapa elemen masyarakat…jika tidak ada tolak ukur kenapa harus belajar bukan?? jelas saja untuk apa belajar wong antara “si pemalas” dan “si rajin” tidak ada beda, semua mendapat nilai 8 atau nilai “suka”/”tidak suka” dari seorang guru atau….duit?? oh mudah-mudahan tidak sampai kesana kejadiannya, ga lucu dong masih sekolah tingkat SD/SMP/SMU masa sudah belajar menjadi “markus”, jika ketidaksetujuan dengan cara penilaian UN tersebut agaknya kurang pas karena tentu sebuah tolak ukur harus mempunyai cara penilaian dan setiap kebijakan tidak mungkin bisa memuaskan semua pihak sebagai contoh “si rajin” akan menganggap bahwa nilai diatas 5,5 adalah sebuah pekerjaan mudah karena begitu rajin belajarnya sebaliknya “si pemalas” menganggap nilai diatas 3,5 pun bukan sebuah pekerjaan mudah karena sibuk clubbing, tawuran, pacaran dll inilah sedikit pendapat blopini tentang pendapat yang tidak setuju UN dilaksanakan.
Kembali pada histeria yang ditimbulkan UN ini blopini menganggap ini harus di manage dengan baik, baik itu oleh pemerintah melalui DIKNAS-nya, para Guru, Orang Tua, maupun siswa-siswinya. Jika hsteria ini bisa di manage dengan baik tentu akan memberikan nilai positif, contoh me-manage histeria ini seperti para orang tua maupun guru menghimbau atau membuat kesepakatan jika nanti siswa-siswi lulus baju sekolah yang sudah tidak terpakai bisa disumbangkan kepada siswa-siswi yang kurang mampu tentu ini akan memberikan nilai positif bagi siswa-siswi yang menyumbang untuk menguatkan rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air sekaligus beramal dan nilai positif kepada siswa yang kurang mampu akan menambah semangatnya untuk menuntut ilmu karena yakin saudaranya siswa-siswi tidak membiarkan mereka memakai baju yang tidak layak pakai lagi karena setiap tahun akan ada sumbangan dari siswa-siswi kelas 3 yang mengikuti UN, ketimbang corat-coret baju di jalanan kemudian dilihat oleh kebetulan seorang siswa/siswi yang tidak lulus tentu akan membuat efek negatif yaitu kecemburuan sosial dan akhirnya timbul tindakan ekstrim “percobaan/usaha bunuh diri” karena merasa malu dirinya tidak lulus. contoh me-manage histeria ini adalah memberikan motivasi kepada siswa-siswi kelas 2 atau 1 bahwa jelas “si rajin” akan mudah menyelesaikan soal dan lulus sebaliknya “si malas” akan sulit dan kemungkinan “tidak lulus” dengan memberikan contoh senior-senior mereka yang baru saja melaksanakan UN tersebut atau memberikan motivasi kepada  siswa-siswi yang “si rajin” agar terus meningkatkan kemampuannya dengan meneruskan belajar kejenjang yang lebih tinggi baik melalui jalur SPMB, swasta, beasiswa dll, atau memberikan motivasi kepada siswa-siswi yang “si malas” agar belajar lagi dan dunia belum berakhir karena masih ada ujian susulan dan jadikan ini pelajaran bahwa kemalasan tidak memberikan nilai positif baginya dan tentu ini akan mengurangi keinginan yang ekstrim seperti “usaha bunuh diri”. Begitu banyaknya nilai positif yang bisa di petik jika histeria-histeria berlebihan ini mampu di manage dengan baik bagi semua pihak.
Akhirnya blopini memberikan selamat kepada “si rajin” yang lulus UN dan teruslah belajar untuk mencapai cita-citamu dan kepada “si malas” yang kurang beruntung dunia belum berakhir masih ada ujian susulan yang tidak ada bedanya dengan UN namun jadikan ini sebuah pelajaran bahwa hasil positif tidak akan diraih jika usaha-usaha positif tidak dilakukan. Dan untuk pemerintah terus tingkatkan metode penilaian yang masih banyak kekurangan karena masih ada terjadi lubang-lubang kecurangan disana-sini. Akhirnya UN bukanlah sebuah momok ataupun ajang yang harus ditanggapi dengan histeria yang berlebihan

Maju Terus Dunia Pendidikan Indoneisa, mulailah bergeser kepada sistem kompetensi.

Salam Blopini

Berikut beberapa gambar histeria-histeria yang diakibatkan oleh UN




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: