Info | Ukhuwah menghalalkan segala cara?

Ukhuwah menghalalkan segala cara?
Opini – Artikel
ARIFIN S SIREGAR

Pada siaran TVRI Sumut, Sabtu (5/9) pkl 17.45-18.30 ada ceramah Ramadhan berjudul: “Bagaimana Menggalakkan Ukhuwah” dibimbing oleh Prof. Dr.H.Fadli Lubis, MA. Dalam ceramah itu diutarakan beberapa faktor yang harus dipegang untuk menegakkan ukhuwah, di antaranya jangan saling menyalahkan.

Tidak jelas sebatas mana, sejauh mana ketidakbolehan menyalahkan, mengoreksi, mengkritik sesama saudara? Kita tau menegakkan ukhuwah ini ada dua macam : ukhuwah antar-umat berbeda agama dan ukhuwah interumat seagama. Memang demi ukhuwah antaragama, tidak boleh saling menyalahkan karena masing-masing rujukannya berbeda Al-Qur’an dan Injil.

Pada inter-agama rujukannya sama-sama Al- Qur’an Sunnah. Berarti karena sudah sama-sama menerima Al-Qur’an dan Sunnah sebagai ajarannya, maka bila amalannya tidak sesuai Al-Qur’an dan Sunnah wajib/harus diingatkan. Bila tersinggung, berarti belum benar/ragu menerima Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidupnya.

Saya tertarik membahas ukhuwah khusus inter-agama. Penceramah menekankan pada inter-agama pun sifat menyalahkan (menegor/mengkritik ) orang lain harus dihindarkan demi ukhuwah Islamiyah agar (tidak menimbulkan perpecahan/ketersinggungan). Untuk itu saya komentari bahwa untuk masaalah dunia (muamalah) itu benar, tapi pada masaalah ibadah dan aqidah itu tidak benar.

Karena pada masaalah muamalah (dunia) rujukannya relatif yaitu pikiran, perasaan, untung rugi yang sifatnya bisa subjektif terkadang bisa objektif. Tidak demikian halnya pada masaalah aqidah/ibadah di mana rujukannya objektif (Al-Qur’an dan Sunnah) yang sudah tertera hukumnya.

Pada judul kita sebut “Apakah Demi Ukhuwah Menghalalkan Cara” maksudnya apakah demi menenggang perasaan saudara kita agar tidak tersinggung, maka kita biarkan atau benarkan saja, apa saja cara yang diamalkannya ketika saudara kita itu beraqidah dan beribadah, meski salah ? Padahal ada satu filosofi: Teman yang baik adalah teman yang mau menunjukkan kesalahan kita, bukan teman yang senantiasa memujimuji kita.

Pembahasan
Kita semua sudah mengaku berpedoman pada QS An-Nisa’ 59 : “Jika kamu berbeda pendapat mengenai sesuatu, maka kembalilah (rujuklah) kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah) …” Dan QS Al-Ashar : “Sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang saling nasihat menasihati, tunjuk menunjuki”.

Atas firman Allah SWT di atas sebagai petunjuk/pedoman, maka adanya perbedaan pendapat itu sebenarya alamiah. Cuma bila terjadi, maka disuruh Allah SWT cari penyelesaian, rujuk pada hukum- hukum yang ada pada Al-Qur’an dan pada Sunnah Nabi SAW, gunakan untuk saling menasihati sesame kita.

Tentunya mengkritik itu/menyalahkan itu jangan asal bicara tanpa dasar dalil (ini yang tak boleh). Membiarkan saudara kita salah, itu juga tak boleh, adalah selemah-lemahnya iman dan berarti tidak menegakkan QS Al-Ashar tadi. Apalagi bila kita turut membenarkan yang salah, maka yang salah itu diamalkan umat, maka dosa umat itu akan mengalir pada pribadi yang membenarkannya/ mengajarkannya.

Maka berpuluh, beratus, beribu, berjuta, bermiliar dosa mengalir menjadi deposito pada yang membenarkannya. Agar pembahasan kita ini tidak mengambang, menjadi jelas apa yang dimaksud, tentu kita harus tunjuk kasus.

Kasus 1 : Apakah kita biarkan saudara kita beribadah yang tidak Sunnah,
demi menjaga ukhuwah misalnya shalat qabliyah Jumat di mana tidak pernah diamalkan Nabi SAW, sahabat dan Imam Syafii. Di mana Nabi SAW bersabda : “Barang siapa membuat sesuatu pekerjaan yang tak ada dalam agama (aqidah/ibadah) kami, maka yang dibuat itu tertolak”.

(H.R Muslim Bukhari). Dan kaidah usul fikih : “Sesungguhnya ibadah itu haram, sampai ada petunjuk yang membolehkannya.” Apakah sesuai dalil di atas, maka shalat qabliyah Jumat itu tertolak dan haram ? Apakah petunjuk Nabi SAW di atas, hanya sekadar untuk tau, tak perlu dipedomani ?

Kasus 2 : Syalawat adalah ibadah, tak boleh dikotak katik, jangan tambah “syaidina” sudah baku dari Nabi SAW, hak paten pada Nabi SAW, hak cipta pada Nabi SAW, tidak boleh dikotak-katik, sesuai petunjuknya pada H.R Muslim: “Shallu kama roaitum ushulli =.”Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat.” Atau H.R Ahmad : “Mengenai agama (aqidah/ibadah) ikut aku, mengenai dunia (muamalah) kamu lebih tau (silakan rekayasa)”.

Kemudian sering penceramah (ulama/ ustadz) mengatakan suatu filosofi, marilah kita tonjolkan mana yang disepakati jangan menonjolkan yang tidak disepakati (perbedaan pendapat). Kalau penceramah ini konsekuen, haruslah yang kita amalkan mana yang disepakati kebenaran hukumnya, sehingga umat tidak berkotak-kotak, misalnya: syalawat tanpa “syaidina”, azan shalat Jumat hanya 1 kali, tidak ada shalat qabliyatul Jumat, 11 rakaat shalat tarawih, dsb, itu semua ibadah yang disepakati kebenarannya oleh seluruh ulama ke ujung dunia mana pun kita pergi.

Adapun mengoreksi amalan seseorang, justru menyatukan umat dalam Sunnah, bukan menimbulkan perpecahan. Kalaupun ada yang pecah akibat koreksi itu, yang pecah adalah kelompok yang beramal/beribadah/ beraqidah yang menyimpang dari Sunnah. Sebenarnya jujurlah, sebelum dikoreksi umat kita ini sudah pecah berkotakkotak ada kotak (golongan) faham tua, ada faham muda, ada kelompok organisasi N, ada kelompok organisasi M, ada kelompok organisasi A dll.

Sering ulama, ustadz, penceramah, penulis di media massa: “Janganlah merasa benar sendiri atau amalannya yang benar. Kita jujur saja, kita katakan yang kita amalkan yang benar, karena kita punya dalil sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Kalau tidak benar, tolong tunjukkan kesalahannya.

Sedangkan amalan yang kami katakan salah itu, tak punya dalil, tolong tunjukkan dalilnya/ petunjuknya dari Al-Qur’an dan Sunnah, kalau itu benar. Tak percaya mari kita buka forum diskusi terbuka. Terbiasa kalau anda tak punya dalil, akan mengatakan sebagai pelarian : “Ah itu masaalah khilafiyah”. Saya tanya masaalah khilafiyah itu, hak atau batil ?

Kalau hak tentu argumentasinya sama kuat. Tapi suatu kasus yang di satu pihak tidak ada dalil, apakah itu masih khilafiyah, misalnya shalat qabliyah Jumat ?itu khilafiyah.

Kemudian ada tuduhan jangan menganggap pendapat kelompoknya yang benar/paling benar. Kemudian ada yang mengatakan apakah 11 rakaat atau 23, 26, 36, 40 rakaat shalat tarawih tak perlu dibicarakan. Yang penting mengajak orang yang tidak tarawih. Kita jawab: Mengajak orang yang tidak shalat tarawih perlu, tapi juga mengoreksi orang yang shalat tarawih tidak sesuai Sunnah juga perlu.

Mengenai hal apakah demi ukhuwah, maka tidak apa Sunnah dikesampingkan.

Mungkin ada yang berdalih belum masanya mendahulukan Sunnah. Kita tanya : kapan lagi masanya? Asyik menunggu masa, yang batil itu terus berkembang subur, karena tidak ulama, tidak Depag, tidak MUI sepertinya enggan menyatakan bahwa itu tak sesuai Sunnah.

Misalnya mengazankan untuk memasukkan mayat ke liang lahat, atau azan shalat Idul Fitri, atau minta syafaat kepada Nabi SAW, atau mengamalkan shalat qabliyah Jumat, dsb. Belum masanya, asyik menunggu masanya, yang mengatakan atau yang menunggu masanya itu sudah kadung mati, bagaimana tanggung jawabnya di akhirat kelak sebagai seorang muslim atau sebagai ulama, atau sebagai pejabat Depag.

Apa bisa lepas tangan, “bukan tanggung jawabku”, “belum masanya” apabila ditanya di akhirat ? Lagi pula yang akan dinasihati/dikoreksi itu sudah Islam 7 turunan, bukan muallaf, bukan masyarakat baru memeluk Islam (seperti di zaman Rasulullah SAW atau di zaman masuknya Islam ke Indonesia). Apalagi ada yang mengatakan, jangan diungkit-ungkit amalan seseorang ! Itu benar bila orangnya baru masuk Islam, asal mau ia shalat, biar tinggal-tinggal waktunya tidak apa.

Tapi bagi yang sudah dari kakek moyangnya Islam apakah tak boleh ditegor agar shalatnya benar, jangan buru-buru, harus tumakninah, jangan baca yang tak ada Sunnahnya, dsb. Sahabat sendiri yang shalat langsung bersama Nabi SAW masih bisa salah, sehingga pernah Nabi SAW menyuruh seorang sahabat mengulangi shalatnya sampai 3 kali, belum juga berterima oleh Nabi SAW, sehingga disuruh lagi untuk shalat di belakang Nabi SAW langsung, untuk memperbaiki shalatnya.

Kemudian tidak benar di zaman Rasulullah tidak ada perbedaan pendapat (saling mengoreksi). Di mana sebuah riwayat menceritakan bahwa Abu Bakar RA berselisih pendapat dengan Umar RA, mana yang benar shalat malam itu sebelum tidur atau sesudah tidur. Maka mereka menjumpai Nabi SAW, bertanya dan mendapat jawaban, sabda beliau: “Kamu Abu Bakar orangnya hati-hati, maka kamu shalat malam sebelum tidur.

Kamu Umar orangnya disiplin maka kamu shalat malam sesudah tidur”. Mendapat jawaban ini, kedua sahabat puas. Jadi perbedaan itu tak boleh dibiarkan. Sekarang perbedaan pendapat juga tak boleh dibiarkan. Ke mana merujuk ? Jawabnya : rujuklah ke Allah (Al- Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah), sesuai QS An-Nisa’ 59.

Bila perbedaan pendapat tidak diselesaikan, membiarkannya menyebabkan umat berkotak-kotak, ada kotak N, ada kotak A, ada kotak M, dsb. Masjid berbeda, ustadznya berbeda, abang dan adik berbeda menghadapi kematian ayahnya. Untuk membenarkan aqidah/ibadah seseorang yang menyimpang dari

petunjuk Nabi SAW maka seseorang beralasan : “Itu sudah termasuk lapangan ijtihadiyah“. Kita jawab : Pada aqidah dan ibadah, sudah tertutup pintu ijtihad.

Aqidah dan ibadah tidak bisa dikotakkatik lagi. Hak cipta ada pada Nabi SAW, apakah kaifiyatnya, bentuknya, penempatannya, dsb. Jadi ijtihad hanya boleh dalam teknisnya misalnya : menzakatkan emas 2,5 %, dihargai dengan uang dibayar dengan uang (ini teknis). Yang tak boleh dikotak-katik adalah ibadahnya (2,5 %), jangan buat 2, % atau 3 %, dsb.

Misalnya yang lain tawaf harus mengelilingi Kabah 7 kali (ini ibadah) jangan kotak-katik menjadi 23, 26, 36, 40 kali. Yang boleh direkayasa mengelilinginya di tempat bertingkat (ini teknis). Jadi dibolehkan berijtihad hanya pada masalah dunia (muamalah). Itu pun bila tidak dijumpai hukumnya pada Al- Qur’an dan Sunnah.

Kemudian boleh berijtihad untuk memperoleh hukum bila tidak ditemui hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Sumber : Klik Disini

————————————————————————————————-

Blopini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: