Info | Kenapa aliran sesat marak di Indonesia?

Kenapa aliran sesat marak di Indonesia?
Opini – Artikel
ARIFIN S. SIREGAR

Pada siaran TVRI Sumut pukul 17.30-18.30 tanggal 25 Agustus lalu ada tanya jawab interaktif oleh pemirsa dengan narasumber Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA sebagai penceramah (ustadz). Menjawab pertanyaan : “Kenapa aliran sesat di Indonesia berkembang pesat?” oleh penceramah menjawab: ‘’Oleh karena ustadz/juru dakwah kita berdakwah tidak ilmiah, banyak luculucu, ketawa-ketawa.’’ Hemat saya, jawaban penceramah ini juga tidak ilmiah !

Kita harus jujur, tidak usah malumalu, bersembunyi di balik lalang, penyebabnya adalah karena banyak ustadz (juru dakwah) ulama tidak memperingatkan umat dan jamaahnya “awas bid’ah”. Kalau dijelaskan “apa bid’ah” dan apa “ancaman perbuatan bid’ah” maka jawaban pertanyaan pemirsa itu terasa mengena dan ilmiah. Sesungguhnya Nabi SAW memberikan tiga jenis ancaman atas perbuatan yang salah (batil) : Pertama, jangan kerjakan yang haram. Kedua. Jangan kerjakan yang syirik, dan yang ketiga jauhi perbuatan bid’ah.

Yang haram adalah : melanggar larangan yang sudah jelas hukumnya, misalnya : dilarang makan babi, mencuri, berzina, dsb.

Yang syirik adalah : menyekutukan Allah SWT, misalnya : meyakini tepung tawar mempunyai kekuatan gaib mampu mencegah bencana, mampu mendatangkan rezeki/kesehatan dsb. Padahal Allah SWT telah menyatakan hanya Allah SWT yang mampu berbuat untuk masalah gaib (QS Al-An Am 59).

Yang bid’ah adalah : menambahnambah/ mengotak-atik,/merekayasa ibadah atau aqidah yang sudah ditetapkan Nabi SAW (di mana sesungguhnya perbuatan itu tidak melanggar larangan dan tidak menyekutukan Allah SWT ). Sepintas lalu kelihatannya perbuatan itu baik dan bagus, tapi tidak benar.

Kelalaian ustadz menerangkan apa bid’ah sehingga bid’ah merajalela di sana sini dan berkembang apalagi tidak ditegor. Bid’ah itu yang dianggap sepele misalnya menambah “syaidina“ pada syalawat, atau mengazankan keberangkatan haji atau ketika menanam mayat ke liang lahat, kemudian mengamalkan shalat qabliyah shalat Jum’at.

Meningkat dan berkembang lagi bid’ahnya yaitu mengadakan tahlilan 40 hari, 100 hari, 1000 hari kematian, meningkat lagi bid’ahnya: imam shalat menerjemahkan fatihah ke dalam bahasa Indonesia, meningkat lagi bila membuat thariqat ini – tharikat itu, meningkat lagi : harus meyakini imamnya adalah penyampai wahyu dari Allah SWT, dst.

Terjadinya semua itu karena diberikannya kesempatan mengkotak katik pada aqidah dan ibadah (berbuat bid’ah) yang dinilai baik dan bagus. Ada satu peribahasa : “Kuman di seberang laut tampak olehnya, gajah di pelupuk matanya tidak kelihatan olehnya.“ Artinya, kalau orang menambah – nambah suatu aqidah atau suatu ibadah dianggapnya sesat, tapi bila pada amalannya yang juga menambah – nambah keyakinan atau bentuk pada aqidah dan ibadah, tidak dianggap sesat.

Padahal Nabi SAW telah bersabda: “Seburuk-buruknya perbuatan adalah yang mengada-ada (menambah-nambah/ merekayasa) dan setiap yang mengada- ada adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat…“. Berarti sebenarnya bila kita ikut versi Nabi SAW apa-apa kriteria sesat itu : adalah orang-orang yang berbuat bid’ah (mengada-ada, menambahnambah, merekayasa) pada aqidah atau ibadah).

Kenapa anda tidak menggunakan kriteria versi Nabi SAW ini ? Apakah kriteria anda lebih unggul dari criteria Nabi SAW ? Pada kriteria untuk menuduh apa amalan sesat itu, oleh Prof. Dr. H. Ramli Wahid, MA sama sekali tidak menggunakan kriteria Nabi SAW itu. Kenapa? Tapi kita sudah mengaku ittiba’(patuh/mengikut) pada Nabi SAW, kita sudah ‘‘samikna wa atokna“ (aku dengar dan aku ikut) pada Nabi SAW.

Terbukanya kesempatan berpikir untuk mengada-ada (menambahnambah, mengkotak- kotak, merekayasa) aqidah/ibadah sehingga lama lama berkembang menjadi sampai seperti yang kita tuduhkan amalan mereka sesat. Coba bila kita berpegang pada nasihat Nabi SAW : ‘‘Jangan kamu mengada – ada (berpikir untk mengkotak – kotak aqidah/ ibadah) pada aqidah/ ibadah yang sudah baku dari Nabi SAW, tentu tidak ada orang mencoba – coba mengkotak-katik Aqidah/ Ibadah, meskipun dimulai dari yang sederhana (menambah “syaidina“ pada syalawat) yang lebih jauh misalnya menyuruh jamaahnya meyakini tuan gurunya menerima wahyu untuk menyempurnakan aqidah/ibadah (yang
sudah baku dari Nabi SAW).

Sekadar bertanya: Bagaimana pendapat anda orang yang menambah ibadah “tarawih” Nabi SAW 11 rakaat menjadi 23, 26, 36, 40 rakaat itu apakah itu penaatan atau pengingkaran dari ajaran Nabi SAW ? Penaatan itu juga aqidah. Jadi berkembangnya dengan marak aliran sesat, penyebabnya adalah adanya kebolehan kesempatan mengkotak-katikan aqidah dan ibadah. Kebolehan itu membuka peluang orang berpikir : bagaimana kalau aku buat begini, begitukan lebih bagus, lebih baik, demi syiar, demi menyempurnakan, dsb. Padahal, seharusnya panduan kita hanya pada Al-Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Sumber : Klik Disini

————————————————————————————————-

Blopini

One Response to “Info | Kenapa aliran sesat marak di Indonesia?”

  1. aku masih bingung ni…
    koq bisa ya orang tertarik ke aliran sesat…
    sebodoh apa sih orang yang jadi pengikut aliran sesat itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: