Info | Thawaf sentuh wanita batal ‘wudhu’ ?

Thawaf sentuh wanita batal ‘wudhu’ ?
Opini – Artikel
ARIFIN S SIREGAR

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi keterangan/penjelasan yang selalu diberikan oleh ulama penceramah manasik haji kepada peserta manasik haji, apa hukumnya bila terjadi sentuh/menyentuh ketika thawaf. Sungguh disesalkan, dimana penjelasan dari penceramah sangat menyimpang dari ajaran Islam, “membodohi” umat.

Seperti kita sudah maklumi, orangorang yang thawaf itu mau tidak mau akan bersentuhan antara wanita dengan laki-laki, karena padatnya yang thawaf. Seperti kita tau syarat thawaf harus ada wudhu’. Maka untuk itu peserta manasik Haji mendapat penjelasan dari penceramah manasik Haji, sebagai berikut :

Alternatif Pertama : “Buatlah keyakinan di hati (selama berada di Saudi Arabia) tidak batal wudhu’ketika thawaf tersentuh/menyentuh wanita karena kita sedang berada di daerah Arab Saudi yang berfaham Wahabi, dimana fahamnya sentuh wanita (tanpa nafsu) tidak batal wudhu’.

Alternatif Kedua : Buatlah keyakinan di hati tidak batal wudhu’ sentuh wanita, dengan alasan darurat, karena padatnyaorang yang thawaf.

Diskusi : Untuk alternatif pertama : ulama penceramah menyuruh berpindah mazhab ke mazhab Wahabi untuk mengelak dari harus berulang-ulang wudhu’ lagi, ketika bersentuh wanita. Kalaulah kesulitan mengulang wudhu’ itu sebagai alasan untuk berpindah mazhab, maka ini adalah ajaran yang menyesatkan.

Memang dibenarkan seseorang berpindah faham ke faham yang baru, meninggalkan fahamnya yang lama tetapi karena setelah mendapat berbagai argumentasi yang dianggap lebih benar. Inilah yang disebut talfiq. Ini yang dibenarkan. Misalnya selama ini ia berfaham mengikut Mazhab Syafii (batal wudhu’ sentuh wanita),belakangan berpindah ke faham Wahabi (tidak batal wudhu’ sentuh wanita).

Tapi jangan setelah kembali ke Indonesia, kembali lagi kefaham bermula: batal wudhu’ sentuh wanita (kecuali muhrimnya : ibu, anak, abang, adik, nenek).Ini namanya mempermainkan Allah SWT, pura-pura berkeyakinan tidak batal, hanya untuk menghindari diri dari kesulitannya untuk berwudhu’lagi bila sentuh wanita .

Hendaknya bila telah berfaham “tidak batal”, hendaknya keyakinan ini dating dari hatinurani, setelah menerima argumentasi yang sesuai petunjuk Nabi SAW bahwa tidak batal wudhu’ sentuh wanita dan keyakinan ini terus untuk selamanya.

Untuk alternatif kedua : Ibadah wudhu’, tidak mengenal adanya keadaan darurat. Apapun kondisinya,harus wudhu’. Seperti shalat, tidak bisa berdiri, duduk, tidak bisa duduk, berbaring. Jadi begitu juga wudhu’ tidak ada air, tayammum (menggunakan tanah) (QS An-Nisa’ 43). Misalnya di pesawat terbang karena tidak adanya tanah,. Untuk wudhu’ dengan tayamum, maka telapak tangan dihapuskan ke dinding pesawat dianggap ada tanah (debu) untuk persyaratan tayamum.

Agar wudhu’nya syah dan shalatnya/thawafnya syah. Jadi atas dasar ini, kenapa ada ulama berani mengatakan alasan darurat, untuk tak usah mengulangi wudhu’ setelah sentuh wanita. ?!! Ini yang kita maksud diatas, jangan umat “dibodohi”.

Penjelasan : Ada 5 buah Hadis shahih yang menjelaskan sentuh wanita (tanpa syahwat/ bukan bersetubuh), tidak batal wudhu’,yaitu :

Hadis pertama : Telah berkata Aisyah : Bahwasanya Nabi SAW pernah mencium salah seorang isterinya, kemudian beliau shalat, sedang beliau tidakberwudhu’ (lagi) (HR Ahmad, Abu Daud, Nasaie, Turmudzie).

Hadis kedua : Telah berkata Urwah: Telah berkata Aisyah : Bahwasanya Nabi SAW pernah mencium salah seorang isterinya lalu beliau tidak berwudhu’’ (lagi) HR Ibnu Jarier, atau Ath- Thabrani, Jami’ul Bayan Juz V halaman 105).

Hadis ketiga : Telah berkata Aisyah: “Saya pernah tidur dihadapan Rasulullah SAW, sedang kedua kaki saya itu menghadap beliau, maka apabila sujud, beliau memicit saya, lalu saya menarik kaki saya, kemudian apabila beliau itu berdiri, saya ulurkan kedua kaki saya (HSR Bukhari).

Hadis keempat : Telah berkata Aisyah“Bahwasanya Rasulullah SAW, pernah shalat, pada hal saya tidur melintang dihadapan sebagaimana mayat, sehingga apabila beliau itu hendak bershalat witir, beliau menyentuh saya dengan kakinya (HSR Nasaie).

Hadis kelima : Telah berkata Aisyah: “Pada suatu malam saya kehilangan Rasulullah SAW dari tempat tidur, lalu saya meraba beliau didalam gelap, maka terletaklah kedua tangan saya didua tapak kakinya, yang tercacak, seang ia didalam sujud (HSR Muslim, Turmuzie, Baihaqi).

Mungkin anda mengatakan : “Kenapa Imam Syafii tidak mengikut Hadis Nabi SAW diatas ? Jawabnya : Imam Syafiiketika itu belum/tidak menemui Hadis diatas, karena beliau berada jauh di Bagdad. Kalau anda mengatakan, mana mungkin imam Syafii tidak menemui Hadis itu. Kalau begitu anda yakin iman Syafii menemui Hadis diatas, berartianda menuduh Imam Syafii ingkar pada Hadis Nabi SAW.

Inilah hal yang tidak mungkin, Imam Syafii sangat setia pada Hadis shahih. Kemudian QS An Nisa’ 43 yang berbunyi: “Bila kamu menyentuh wanita dan tidak menemui air, maka tayammumlah”. Kalaulah imam Syafii menggunakan ayat ini sebagai rujukan, ada kelemahan pendapat Imam Syafii, kenapa Imam Syafii membuat kekecualian tidak batal wudhu’ kalau sentuh wanita muhrimnya.

Pada hal dalam ayat itu tidak ada pengecualian (muhrim). Adanya hokum muhrim bukan untuk wudhu’, tapi menyatakan tidak boleh dua orang pria dan wanita berduaan bila bukan muhrimnya. Tidak untuk batal wudhu’. Begitupun bila Imam Syafii penafsirannya pada QS An Nisa’ 43 itu bila benar maka beliau mendapat 2 pahala, bila salah mendapat 1 pahala, karena dimasanya itulah kebenaran yang diperolehnya.

Tapi sekarang, kita telah menemui Hadis Nabi SAW 5 buah yang menyatakan sentuh wanita ((tanpa syahwat/ tidak bersetubuh) tidak batal wudhu’.Maka bila kita masih ikut Imam Syafii, maka kita bukan memperoleh 1 pahala bila salah, tapi dosa/ingkar Sunnah. Kelemahan dari faham batal wudhu’ sentuh (ansih) wanita, dipertanyakan, bila sentuh dengan adik (muhrim), tapi dengan bernafsu, batal atau tidak ? Tentu batal. Atau sentuh dengan nenek 75 tahun (bukan muhrim tapi tanpa nafsu) apa batal atautidak ? Tentu tidak.

Jadi yang menyebabkan batal adalah sentuh dengan nafsu/syahwat/bersetubuh. Bukan muhrim atau tidak muhrim.

Kesimpulan : Jadi memang sudah benarlah petunjuk Nabi SAW itu, tidak batal wudhu’ sentuh wanita (tanpa syahwat), dimana saja dan kapan saja. Sehingga sampai akhir zaman tidak menyulitkan umat untuk thawaf. Seandainyalah Allah SWT menyatakan sentuh wanita (ansih) batal wudhu’, bagaimana mungkin umat bisa thawaf dimasa sekarang dan akan datang.

Jadi yang selamat, ikut sajalah petunjuk Nabi SAW, tidak batal wudhu’ sentuh wanita siapa saja (apa muhrim atau tidak) (tanpa nafsu) atau dimana saja (di Mekah atau di Indonesia). Jangan “bodohi” umat dengan menyatakan boleh tidak wudhu’ untuk thawaf/ shalat alasan keadaan darurat. Atau mengatakan boleh pindah mazhab untuk sementara, nanti setelah di Indonesia kembali lagi ke mazhab lama.

Bentuk keyakinan (sementara) seperti ini, adalah keyakinan pura-pura (ecekecek) alias memperolok-olok Allah SWT. Kesulitan yang anda hadapi ketika thawaf, bila berkeyakinan batal wudhu’ sentuh wanita, adalah karena kesalahan anda sendiri, anda mempersulit diri sendiri, tidak patuh pada petunjuk Allah SWT/Nabi SAW bahwa tidak batal wudhu’ sentuh wanita (tanpa syahwat/ bersetubuh).

Dan inilah tantangan atau batu ujian pada iman anda : beriman pada Allah dan Rasul-Nya atau beriman pada ulama.

Sumber : Klik Disini

————————————————————————————————-

Blopini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: