Info | Jangan Buat “Sunnah Gado-gado”

Karena blopini sering baca koran dan salah satu koran yang sering dibaca adalah waspada maka blopini sering menemukan tulisan dari Bapak Arifin S Siregar dan sangat menyukai analisa dan telaahnya tentang ke-islaman maka blopini sedikit memberikan ruang untuk beberapa tulisan beliau, dan semoga bermanfaat bagi blopini maupun pembaca blopini … amin.

Jangan buat ‘’sunnah gado-gado’’
Opini – Artikel

ARIFIN S SIREGAR

Belakangan ini acara tepung tawar semakin galak dipamerkan pada umat, khusus pada pemberangkatan calon jamaah haji dan penyambutan kepulangan para haji dan hajjah. Katanya sebagai tanda kesyukuran mereka telah kembali selamat dan sekaligus menyambut tahun baru Islam 1 Muharram 1431 H, dan untuk mempererat tali silaturrahmi.

Apakah hal itu dibenarkan dalam Islam, perlu dikaji, diulas. Kalau itu hak, mari kita lestarikan pengamalannya, tapi bila sifatnya syirik, mari cepat-cepat kita tinggalkan. Apa pun amalan kita apakah aqidah, ibadah, muamalah, budaya, adapt dsb bila berbau syirik tidak boleh dipertahankan.

Sehingga menjadi pertanyaan apakah tepung tawar itu benar tanda syukur atau tanda syirik ? Karena tanda syukur dalam Islam adalah dengan Sunnah Islam, misalnya berpuasa, bersedekah, memberi makan anak yatim, berinfak/wakaf ke masjid, pesantren buat pengajian akbar dsb.

Yang jelas tepung tawar itu adalah ritual (doa) agama Hindu. Jadi Sunnah Hindu. Kita peringati 1 Muharram tahun Hijrah, tentunya wujudnya meninggalkan amalan Jahiliyah (Hindu/animisme/majusi, dsb) untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh,tidakpilih-pilihsesuaiselera).

Hal itu sesuai perintah Allah SWT melalui QSAl-Baqarah208: “Haiorang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh). Janganlah kamu ikuti (turutkan) rayuan-rayuan setan (ajakanajakan kebiasaan jahiliyah, hawa nafsu). Sesungguhnya seitan itu musuhmu yang nyata”.

Artinya, bila sudah Islam jangan lagi ikut Natalan atau jangan lagi tepung tawar, pijak telur, menanam kepala kerbau saat membangun gedung/jembatan, membuang ayam ke laut, basuh kaki ibu (minta ampun pada ibu) dsb, lihat: kitab “PARASIT AQIDAH” oleh A.D EL MARZDEDEQ), Sangat disesalkan pelanggaran terhadap QS Al-Baqarah 208 dan QS Al-Kafirun ini (tepung tawar, Natal bersama, basuh kaki ibu, dsb) kalau dilakukan orang awam masih bisa dimengerti, tapi kalau dilakukan oleh ulama, MUI dan pejabat, tentu kita bertanya hendak ke mana tauhid umat ini mereka arahkan? Janganlah kita munafik, berhamburan seruan, “semoga mereka menjadi haji mabrur” tapi kita nodai dengan ritual (doa) Hindu.

Bercerminlah pada Umar
Begitu telitinya/sensitifnya Umar bin Khattab memelihara tauhid umat, hanya gara-gara orang Arab berdatangan shalat sunat di bawah sebatang pohon (pohon “syajaratur ridlwan” lihat Kitab : KHULASHAH NURUL YAQIEN, Umar Abdul Jabbar, Juz II hal.48, bab : Shulhul Hudaibiyah atau lihat kitab : “KETUHANAN YANG MAHA ESA” oleh Syeikh Sulaiman bin Abdullah hal.444), di mana Nabi SAW dulu pernah membaiat di bawahnya, maka mungkin ada orang Arab menanggapinya tempat itu berkat atau tidak, tapi Umar RA tidak mau ambil risiko, tempat itu jadi tempat di mana umat bisa terjebak pada kesyirikan, maka cepat-cepat Umar bin Khattab mengambil kampak dan seraya menebangnya rata dengan tanah.

Setelah itu orang Arab tidak lagi datang shalat sunat ke sana . Apakah ulama, pejabat sudah ikhlas mempertanggungjawabkan dosa umat yang terjebak pada seandainya tepung tawar itu kesyirikan? Apakah ulama tidak mempedomani QSAl-Ahzab 66-67-68dan QS Al-Baqarah 166-167 ?

Diulang-ulang di TV, di koran undangan agar umat menghadiri acara tepung tawar tanda kesyukuran terhadap jamaah haji yang baru kembali dan sekaligus memperingati menyambut 1 Muharram 1431 H. Tentu akan menimbulkan pertanyaan dan meminta keterangan dari ulama ke MUI untuk menjelaskan pada umat apa upacara/acara ini sudah menjadi Sunnah dalam Islam ?

Apakah ada Sunnahnya tanda kesyukuran dengan melakukan upacara tepung tawar ? Atau kenapa tali silaturrahmi tambah ketat dengan tepung tawar ? Apakah boleh mempererat tali silaturrahmi dengan upacara ritual agama Nasrani ( Natal bersama), agama Hindu (tepung tawar) dan agama Brahmana (basuh kaki ibu) ?

Penelaahan
Tidak dapat dibantah tepung tawar tidak ada magna rasional yang dapat diambil, kecuali mengharapkan manfaat gaib.Di manajamaah haji/pengantin yang sudah dirias atau berpakaian putih bersih malah dikotori. Rela seseorang dikotori, tentu karena ada manfaat gaib dari pengotoran itu, yang diharapkan.

Dikotori (ditabur dengan rempah-rempah, bunga, bertih, kapur, dsb, itu), ikhlas, rela dikotori tentu karena merasa ada manfaat gaib yang harapkan. Sekarang kita tanya, adakah Sunnah Nabi SAW tepung tawar dapat memberikan magna/manfaat gaib ?

Apakah itu dapat mendatangkan pahala, keberkatan, keselamatan, dsb ? Untuk itu Sdr HM Nasir memberi alasan dengan mengemukakan satu riwayat di mana Nabi SAW pernah memercikkan air yang dikeluarkan dari mulut Nabi SAW ke antara dua payudara Fatimah dan pada kepalanya. Dan ini merupakan suatu ritual/ doa/ibadah yang dicontohkan Nabi SAW.

Kalaulah ini Sunnahyang boleh diamalkan, maka amalkanlah sesuai tata cara yang dilakukan Nabi SAW. Nabi SAW hanya menggunakan air semata. Tidak ada menggunakan rempah-rempah, kapur, bertih, dsb yang masing-masing ini oleh nenek moyang mengandung makna untuk keberkatan, keselamatan, ketahanan diri menolak gangguan yang datang dari luar, dsb.

Nabi SAW hanya memasukkan air ke mulutnya, lalu disemburkannya ke dada dan ke kepala Fatimah seraya membaca “Allahumma inni uizuha bika waspada zurriyataha minasyaithanirrajim (Ya Allah aku perlindungkan ia kepada Engkau dari setan yang direjam).

Anda berlagak mengikut Sunnah, tapi anda ubah Sunnah dengan menggunakan selera/ budaya nenek moyang (Hindu). Seharusnya anda juga harus menyemprotkan air tepung tawar dari mulut anda ke jamaah haji/pengantin. Begitupun berarti anda campuradukkan Sunnah Nabi SAW dengan Sunnah ala Hindu menjadilah Sunnah gado-gado.

Dan ini anda anggap ibadah (Sunnah),yang bisa mendatangkan pahala, keberkatan, dsb. Anda baca Bismillah (Sunnah Nabi SAW) lalu anda taburkan rempah-rempah (Sunnah Hindu). Menjadilah Sunnah gado-gado. Tapi selanjutnya anda mengatakan, orang yang ditepung tawari jangan berniat untuk keberkatan, keselamatan, dsb, agar jangan terjebak pada syirik.

Padahal Nabi SAW melakukannya dengan niat untuk keberkatan, keselamatan, dsb. Jadi keterangan Sdr ini berbelit-belit, janganlah membodoh-bodohi umat. Padahal Nabi SAW dengan “tepung tawar” dengan niat (doa) untuk keselamatan. Anda katakana tepung tawar model anda ikut Sunnah.

Jadi berarti ada niat untuk keselamatan. Tapi tepung tawar anda model Hindu. Bila ada niat untuk keselamatan, maka jadi syirik. Apalagi Sdr mengatakan tepung tawar itu telah disyahadatkan. Siapa yang mensyahadatkan dan kapan ? Sekali lagi jangan umat dibodoh-bodohi.

Padahal tepung tawar itu berasal dari agama Hindu. Kemudian mohon anda banyak lagi belajar apa hukum dasar dari ibadah dan tauhid (Aqidah). Banyak keterangan anda yang tidak sesuai ajaran Islam. Anda menggunakan rempah-rempah yang anda katakana meniru Nabi SAW (sebagai ibadah/Sunnah).

Anda katakan tepung tawar sebagai budaya. Jadi berarti tidak berlandaskan Sunnah Nabi SAW (seperti yang anda contohkan di atas). Kalaulah tepung tawar itu hanya sekadar budaya, boleh tapi jangan mengandung manfaat gaib. Kalau mengandung manfaat gaib harus ada Sunnahnya, baru boleh diamalkan.

Sebentar anda mengatakan ikut Sunnah Nabi SAW sebentar anda katakana sebagai budaya. Kacau! Menjadi pertanyaan : apakah anda setuju untuk menyambut 1 Muharram diamalkan terompet, tepung tawar, memalu lonceng, api unggun, dsb, di mana kita anggap saja ini sebagai budaya ?

Bila anda katakan ikut Sunnah Nabi SAW, berarti sebagai doa, tapi caranya anda lakukan cara “Sunnah Hindu“. Ibadah Haji Sunnah Islam. Tepung tawar “Sunnah” Hindu. Maka penggabungannya jadi “Sunnah gado-gado”. Anda bandingkan tepung tawar dengan obat.

Memang obat sebagai usaha yang mengandung manfaat rasional, ada mekanismenya untuk penyembuh agar terhindar dari syirik harus di hati kita, mekanismenya terwujud setelah izin Allah SWT. Tapi tepung tawar tidak ada manfaat rasionalnya, sehingga tidak ada mekanismenya bisa mewujudkan sesuatu.

Dimakan tidak, memberi kecantikan juga tidak (malah mengotori). Jadi apa niat kita melakukan tepung tawar, untuk menghasilkan apa yang saudara inginkan. Misal anda tanam lalang untuk mengharap tumbuh padi. Tentu tidak mungkin. Allah SWT akan membolehkan usaha yang irrasional (gaib) diamalkan bila ada Sunnahnya.

Jadi inilah bukti tepung tawar itu gagal sebagai doa, gagal sebagai budaya. Tetapi balai sebagai budaya boleh diteruskan karena rasional telor dan pulutnya jadi rebutan. Ketahuilah tidak semua amalan Nabi SAW boleh ditiru. Ada kekhususan untuk NabiSAW.

Misalnya Nabi SAW pernah meludahi mengobati mata orang yang sakit. Atau Nabi SAW, setelah selesai mayat ditanam, lalu memancapkan pelepah daun korma, dengan mengatakan : “Selama daun korma ini belum layu, maka mayat yang ditanam di bawahnya, terhindar darisiksakubur”. Apakah ini anda amalkan?

Dan kalau “tepung tawar” itu sebagai Sunnah, tentu akan diamalkan sahabat dst. Ternyata tidak ada riwayat yang menerangkannya, sahabat lakukan,kecuali anda yang mengamalkannya.

Sumber : Klik Disini

————————————————————————————————-

Silahkan disimak!!

One Response to “Info | Jangan Buat “Sunnah Gado-gado””

  1. gado2 emang enak rasanya……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: