Info | Ditepungtawari, tanya ulama apa gunanya?

Opini – Artikel

ARIFIN S SIREGAR

Pada Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 36, Allah SWT berfirman : “Janganlah kamu melakukan sesuatu yang kamu tidak mengetahui (kenapa dan mengapa). Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya (kelak di akhirat)”.

Menyimak pada peringatan Allah SWT ini, maka dituntut bagi anda (calon Haji), bertanyalah pada panitia/ulama/ pejabat yaitu pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan tepung tawar itu, kenapa dan mengapa ditepungtawari dan mereka menerangkan apa sesungguhnya fungsi tepung tawar pada pemberangkatan calon Haji dan kepulangan anda? Sebelum jelas jangan mau ditepungtawari, karena anda akan dituntut oleh QS Al-Isra’ 36 di atas.

Seandainya tepung tawar itu syirik, maka anda terjebak kepada syirik dan mereka-mereka panitia tepung tawar akan cuci tangan (berlepas diri) dari mempertanggungjawabkan anda di akhirat kelak (QS Al- Baqarah 166, 167). Dari sifat dan makna tersirat dari tepung tawar itu, bisa terjadi dua kemungkinan, pertama: syirik dan yang kedua: tidak syirik.

Seandainya tepung tawar itu syirik, apakah anda sudah ikhlas menerima risikonya? Haji mabrur hilang, dan terjebak pada dosa syirik. Dosa syirik menghapus semua amal ibadah kita. Padahal tanpa tepung tawar, persyaratan ibadah haji sudah dipenuhi. Kenapa harus mengambil risiko dengan ritual ala Hindu yang diragukan/ dipertentangkan kebenarannya.

Anda inginkan ibadah Haji mabrur, tapi anda mulai dengan hal yang berbau syirik mencemarinya dengan ritual (ibadah) agama Hindu atau nenek moyang (animisme). Pada panitia yang terlibat, apakah saudara tidak takut pada doa mereka di akhirat kelak, sesuai QS Al- Ahzab 67 : “(Ketika mereka merasakan api neraka), maka mereka mengeluh/ mengucapkan : “Walai Tuhan kami! telah mengikuti pemimpin-pemimpin (ulama/ pejabat) kami, tapi mereka telah menyesatkan kami.”

Diterangkan lagi oleh QS Al-Ahzab 68 : “Wahai Tuhan kami ! Timpakanlah azab dua kali lipat kepada mereka dan kutuklah mereka dengan hebat.” Dan anda-anda yang ditepungtawari, seandainya itu syirik, akan berkata di akhirat seperti yang disebut pada QS Al-Baqarah 166 dan 167 yang isinya menyatakan bahwa pejabat/ulama akan cuci tangan (berlepas diri) dari mempertanggungjawabkan anda-anda di hadapan Allah dan kemudian anda memohon agar dibolehkan kembali ke bumi untuk tidak mengikut mereka lagi.

Tapi Allah SWT menyatakan, tidak bisa, nasi sudah jadi bubur, teruskanlah anda di neraka selama-lamanya. Untuk Pertimbangan Tidak dapat dibantah, tepung tawar adalah warisan dari agama Hindu (Kitab : “Parasit Aqidah” oleh A.D. EL Marz Dedeq, hal : 109,106,38,24). Dan anda boleh lihat di Bali pada acara ibadah mereka. Secara akal yang sehat: dipertanyakan apa yang anda peroleh dari tepung tawar? Anda tidak bisa makan tepung tawar itu.

Malah tepung tawar mengotori yang ditepung tawar dengan percikan air, rempah, bunga, bertih dan kapur sirih. Kenapa anda rela. Tentu karena tersirat di hati anda, anda telah diberkati, telah didoakan agar selamat, dsb.

Bila anda bersilat lidah, mengatakan: tidak ada tersirat apa-apa di hati. Hal ini suatu pembohongan. Yang berbuat tanpa seruhan hati, hanya bisa datang dari orang mabuk, gila, robot, atau gerak refleks. Selama anda masih waras, di mana anda tidak mabuk, tidak gila, bukan robot, pasti dan mesti ada tergerak di hati anda menyuruh untuk apa akan berbuat.

Tidaklah anda menggerakkan tangan anda tanpa rempah- rempah, bunga-bunga untuk tepung tawar tanpa ada maksud. Tidaklah anda mau dikotori, dipercik-percik, dicomeng-comeng tangan anda, tanpa ada maksud. Tentu tersirat ada keberkatan yang didapat.

Seandainyalah tidak dalam upacara itu, lalu ada orang atau anak kecil memercikkan air atau mena-burkan rempah ke kepala/muka anda, apa anda terima ? Tentu anda tolak, karena perbuatan mereka tak ada tu-juan keberkatan.

Kalau ada yang berdalih : untuk bersenang, maka tanya : kenapa anda jadi senang. Tentu ada yang menyenangkan. Janganlah anda terjebak pada QS Lukman 21, Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan pada mereka. Ikutilah (apa) yang diturunkan Allah!” Mereka menjawab: “Kami (hanya) mengikuti tradisi (kebiasaan/adat) bapak-bapak (nenek moyang) kami.

(Meskipun) seitan telah menyeru bapak-bapak mereka ke dalam azab neraka ? Mungkin ada yang memberi argumentasi untuk tepung tawar, bahwa Nabi SAW pernah menyemprotkan air melalui mulut beliau kepada Fatimah seketika bersanding dengan Ali. Kalaulah ini menjadi Sunnah, maka lakukanlah seperti yang dilakukan Nabi SAW itu menyemprotkan melalui mulut.

Jangan menggunakan rempah- rempah kapur sirih, dan bertih-bertih yang anda lakukan seperti tepung tawar sunnah Hindu itu. Hadis Nabi SAW berbunyi : “Seseorang yang bertanya-tanya saja pada dukun tanpa percaya sudah ditutup pintu taubatnya selama 40 hari. Hadis lain berbunyi : “Syirik itu lebih samara dari langkah kaki semut di atas batu hitam di malam gelap gulita.“

Penyesalan
Kenapa ulama tidak peka menjaga agar umat tidak terjebak pada kesyirikan, contohlah seperti yang dilakukan Umar bin Khattab pada satu riwayat menceritakan di mana beliau serta merta menebang sebatang pohon, takut menjadi sumber fitnah/sumber kesyirikan karena orang Arab sering shalat sunat di bawahnya, hanya gara-gara pernah Nabi SAW membai’at di bawahnya.

Meskipun belum tentu semua orang Arab yang shalat sunat di bawahnya menganggap tempat itu diberkati Allah SWT. (Lihat kitab: “KETUHANAN YANG MAHA ESA“ oleh: Syeikh Sulaiman Bin Abdullah Bin Muhammad Bin Abdul Wahab, Timur Tengah). Kenapa ulama membiarkan umat masih mencintai ritual/ibadah Hindu/ nenek moyang.

Apakah ulama tidak bercermin pada riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah: Sekelompok kaum Yahudi memohon pada Nabi SAW agar dibolehkan merayakan hari Sabtu dan mengamalkan Taurat pada malam hari. Permohonan ini ditolak oleh Allah SWT melalui QS Al-Baqarah 208 : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan) ……“ Berarti jangan amalkan lagi ritual Hindu itu.

Camkanlah justru kitab Taurat yag bersumber dari Allah SWT sekalipun, tidak dibenarkan untuk diamalkan lagi sekarang, apalagi tepung tawar ajaran ala agama Hindu yang bukan dari Allah SWT, jelas dan pasti ditolak oleh Allah SWT dan berdosa orang-orang yang mengamalkannya.

Contoh lain : kenapa MUI membiarkan penyataan di TV Sumut bahwa Ustadz Hariyono itu mempunyai mukjizat. Seperti kita tau, hanya Nabi-Nabi yang diberi mukjizat. Apakah ini tidak merusak Aqidah ? Atau satu riwayat menceritakan bahwa suatu ketika Umar RA membolak balik lembar kitab Taurat, dilihat Nabi SAW, seraya Nabi SAW menghardik Umar RA bersabda : “Hai Umar, seandainya Musa as hidup sekarang, maka akan kuwajibkan padanya mengikut Al-Qur’an.‘‘

Dan sadarlah wahai panitia, ulama, pejabat pelaksana tepung tawar, seandainya itu syirik, apakah anda tidak takut dosa beribu orang yang ditepung tawar, dosanya juga (bisa) mengalir jadi deposito anda di “bank akhirat“ nanti.

Sumber : Klik Disini

————————————————————————————————-

Blopini

One Response to “Info | Ditepungtawari, tanya ulama apa gunanya?”

  1. Darnisah ade Says:

    Ya Allah … Kami berlindung padaMU dari syirik yg kami tidak ketahui dan ampunkanlah kami atas ketidaktahuan kami. Makasih mengingatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: