Info | Ahli bid’ah atau aliran sesat?

Ahli bid’ah atau aliran sesat?
Opini – Artikel
ARIFIN S SIREGAR

Dalam rangka mewujudkan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa, penyelenggaraan pemerintahaan diarahkan pada upaya peningkatan kinerja birokrasi agar mampu menciptakan kondisi yang kondusif bagi terpenuhinya kebutuhan masyarakat, meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat; dan menekan tingkat penyalahgunaan kewenangan di lingkungan aparatur pemerintah.

Untuk mewujudkan itu, aparatur merupakan kunci keberhasilan bagi kinerja organisasi instansi pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan.Hendaknya pemerintah memberikan perhatian khusus bagi aparatur yang menjalankan tugasnya dengan baik sebagai pemberi pelayanan kepada masyarakat.

Sebagai pelayan masyarakat tentunya kompetensi yang dimiliki harus seimbang dengan pelayanan yang akan diberikannya. Upaya peningkatan profesionalisme aparatur dalam pelayanan tidak akan tercapai apabila banyak permasalahan yang masih menjadi penghambat bagi kinerja pelayanan.

Permasalahan yang terjadi antara lain yakni rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur, kurangnya motivasi untuk meningkatkan kompetensinya serta rendahnya moralitas dari aparatur itu sendiri. Hal ini mengakibatkan melekatnya image negatif terhadap aparatur untuk mempersulit masyarakat, sehingga peluang untuk melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) masih terbuka.

Ada pameo yang melekat di birokrasi “kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah”, yang terus tertanam dalam pikiran sebahagian besar aparatur pelayanan. Dengan mempersulit masyarakat maka aparat pelayan bisa mendapatkan imbalan yang akan diberikan oleh masyarakat yang menginginkan urusannya cepat selesai.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana meningkatkan kualitas aparatur agar menghasilkan pelayanan yang berkualitas dan masyarakat menjadi puas dengan pelayanan yang diberikan?

Untuk menjawab permasalahan yang dihadapi, ada beberapa strategi yang akan dapat digunakan instansi pemerintah dengan melihat dari sudut pandang manajemen sumber daya manusia, yakni pengembangan SDM melalui pendidikan dan pelatihan, pembuatan prosedur standar pelayanan serta adanya pengawasan.

Untuk lebih jelas hal ini akan diuraikan sebagaimana berikut ini.

Pengembangan SDM
Upaya penyediaan pelayanan yang profesional tidak akan terwujud apabila tidak didukung pegawai yang memiliki kemampuan yang handal. Sebagaimana yang telah dijelaskan, organisasi instansi pelayanan publik masih dinilai tidak profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Ustad menjawab : Ayat ini telah dinasikh mansukh (telah dihapuskan) oleh ayat “anu” (tak tercatat oleh saya). Maka ayat “anu” itulah yang berlaku. Ayat An Nisa’ 39 batal. Kemudian saya komentari : Ayat QS Al-An Am 164 dan QS Yasin 54 dan QS Al Baqarah 286 isinya senada, apakah akan turut batal (terhapus)? Atau berarti Imam Syafii tidak tau masaalah nasikh mansuk ini.”

Kemudian saya tanya : “Apa yang dimaksud Nabi SAW pada Hadisnya menyebut : Sunnah Waljamaah, siapa orangnya ? Jawab ustad Nasir : “Orangorang Ahli Sunnah Waljamaah”, itulah kita ini.” Saya tanggapi : “Ustad mengatakan kita ini adalah Ahli Sunnah Waljamaah.

Kalau begitu seharusnya kita mengamalkan Sunnah-Sunnah Nabi SAW. Kenyataan kita shalat qabliyah Jumat dan kita azan Jumat 2 kali sesudah masuk waktu dan di masjid keduanya di mana tidak ada Sunnahnya, tidak diamalkan Nabi SAW, tidak oleh sahabat dan tidak oleh Imam Syafii.

Kita tahlilan pada kematian hari 1,2,3 dan hari ke-40, ke 100 dan ke 1.000. Tidak diamalkan Nabi SAW, sahabat dan Imam Syafii. Kemudian syalawat ajaran Nabi SAW : “Allahumma shalli ala Muhammad ………. dst“. Kita buat : Allahumma shalli ala syaidina Muhammad ……. dst.

Kemudian Nabi SAW tidak mewasiatkan berdoa/zikir berjamaah dengan suara jahar setelah selesai shalat fardhu, tapi kita lakukan dan suara jahar. Jadi ada “segudang” amalan aqidah/ ibadah yang kita amalkan, yang tidak ada Sunnahnya. Kalau begitu, barangkali lebih tepat orang yang demikian disebut “Ahli Bid’ah wal Jamaah” bukan Ahlu Sunnah Waljamaah”.

Topik Bid’ah
Ustad DR H Ardiansyah, Lc mengutarakan bid’ah itu tidak harus 1 macam, tapi bisa 2,3 atau 5 macam, sesuai pendapat imam Ash Syathibi pada bukunya Al I’tisham.

Untuk itu saya bantah, justru menurut buku yang saya baca (Kitab : “Bahaya Bid’ah Dalam Islam” oleh Syekh Ali Mahfudz, dosen luar biasa Universitas Al-Azhar, Cairo Mesir), disebutkan di sana imam Ash Syathibi mencela pembagian Bid’ah menjadi 2,3,5 bagian. Katanya yang namanya bid’ah hanya 1 macam yaitu sesat, sesuai Hadis Nabi SAW. Maka ustad Ardiansyah berkomentar: “Buku yang anda baca itu tidak benar”. Ini buku saya, tulisan imam Ash Syathibi asli”. Maka menjadi pertanyaan, apakah buku yang saya baca karangan Syekh Ali Mahfuzd dosen luar biasa Universitas Cairo itu, adalah Syekh Ali Mahfuzd salah kutip buku Al I’tisham?

Apakah ustad Ardiansyah lebih pintar dari Syekh Mahfuzd? Apakah ustad Ardiansyah menganggap ulama besar IndonesiaKH Ja’far Sujarwo dan KH Rahnip bodoh (salah terjemah)? Seharusnya seorang ulama/ustad yang santun tidak mengatakan demikian. Alangkah santunnya bila mengatakan: “Mari kita teliti lagi apakah penafsiran saya atas kitab Al I’tisham yang salah, atau kitab tulisan Syekh Ali Mahfudz yang salah.”

Untuk dimaklumi masaalah bid’ah rujukannya adalah sabda Nabi SAW bukan ulama. Nabi bersabda : “Kullu bid’ atin dholalah” “Setiap bid’ah ada-lah sesat”. Saya sependapat dengan ulama yang mengartikan “kullu” itu “semua”.

Topik aliran sesat
Membicarakan aliran sesat tampil Prof DR H Ramli Wahid, MA. Untuk itu ustad mengutarakan ada 10 penyebab timbulnya “aliran sesat”, di antaranya mengingkari salah satu rukun iman, mengingkari Hadis Nabi SAW dsb. Memang “aliran sesat” kita semua sepakat harus ditolak (dibasmi).

Yang disesalkan versi “sesat” yang diutarakan ustad Ramli, tidak menggunakan “sesat” versi Nabi SAW : “Seburuk- buruknya perbuatan adalah yang mengada-ada (menambah-nambah) setiap yang mengada-ada adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat ……. dst”. Versi Nabi SAW, sesat itu terjadi karena bolehnya berijtihad pada aqidah/ ibadah.

Sehingga ulama mengada- ada (menambah-nambah) pada aqidah/ibadah. Kenapa mereka mengada- ada ? Karena ada pendapat di antara ulama membolehkan ijtihad pada aqidah/ ibadah. Sehingga mereka berijtihad membuat shalat qabliyah
Jumat, berijtihad tahlilan di kematian, hadiah pahala, berijtihad tambah “syaidina” pada syalawat, dsb, yang telah menyimpang dari Sunnah.

Padahal pintu ijtihad telah tertutup pada aqidah/ibadah. Untuk itu ustad Ramli berkomentar : “Ada Hadis mengatakan : seorang mujtahid (ulama) bila berijtihad benar maka memperoleh 2 pahala, bila salah memperoleh 1 pahala. Itulah alasan ustad Ramli bolehnya ulama berijtihad pada aqidah/ ibadah.

Saya tanggapi: Nabi SAW telah membatasi bolehnya berijtihad itu, hanya pada masaalah muamalah (masaalah keduniaan). Pada aqidah/ibadah tidak boleh. Buktinya : 1. Pada QS Al Maidah 3 : “………. telah Kusempurnakan agamamu untukmu ……… dst”.

2. HR Ahmad Nabi SAW bersabda: “Mengenai urusan dunia kamu, kamu lebih tau mengenai urusan agama (aqidah/ibadah) ikut aku”. 3. Atau HR Muslim : “Barang siapa menyampaikan amalan (aqidah/ibadah) yang tidak ada dalam petunjuk kami (Sunnah) maka amalan itu tertolak (bid’ah sesat).

4.Kaidah Ushul Fiqih : “Sesungguhnya ibadah itu haram, kecuali ada petunjuk (Sunnah) yang membolehkannya”. Jadi sesuai petunjuk di atas itu, maka hak cipta aqidah dan ibadah hanya ada pada Nabi SAW. Setelah Nabi SAW wafat, tidakbolehadalagiterbentukibadah dan aqidah yang baru.

Berarti pintu ijtihad untuk aqidah/ibadah tertutup. Mari kita kembali pada Quran dan Sunnah secara jujur sebelum terlambat (ajal datang) untuk bertobat.”

Kesimpulan
1. Beragama ini perlu tahu kenapa dan mengapa (QS Al Isra’ 36).
2. Pengajian adalah penyampaian agar tahu membedakan mana yang benar, bukan memaksakan harus diterima.
3. Pengajian harus beserta diskusi ikhlas mencari kebenaran. Jangan terlalu dibatasi tanggapan-tanggapan yang sehat dan argumentasi yang kuat.
4. Harus diakhiri dengan berjabat tangan dan berpelukan.

Penulis adalah pengama sospol dan keagamaan

Sumber : Klik Disini

————————————————————————————————-

Artikel kedua beliau.

Blopini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: