Info | Pentolan Mahasiswa Telah “Dibekuk” dengan Uang??

Pentolan Mahasiswa ‘Diteplok’ Duit di Istana?
Kamis, 14/01/2010 | 16:53 WIB

Pentolan Mahasiswa Telah “Dibekuk” dengan Uang? Sungguh Keterlaluan
OLEH: ARIEF TURATNO

PARA pentolan mahasiswa dari sejumlah universitas ternama di Tanah Air kabarnya digiring ke Istana. Setelah di Istana mereka kabarnya “dibekuk” dengan uang. Jika benar informasi ini, sungguh keterlaluan karena dengan begitu mahasiswa telah menggadaikan idealisme dengan recehan. Rumor miring ini dikemukakan salah seorang aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Frans Aba sebagaimana dilansir salah satu situs Ibukota, Kamis (14/1).

Kabar miring ini sebenarnya tidak hanya terjadi sekarang saja, di saat Aliansi 30 Kampus berencana mengepung istana. Kisah dan kasak-kusuk semacam itu sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir ini. Indikasinya adalah masuknya sejumlah aktivis ke dalam lingkungan istana. Karena itu, apa yang disampaikan Frans Aba boleh jadi benar. Pertanyaan dan persoalannya adalah mengapa banyak pentolan mahasiswa yang rela menggadaikan idealisme untuk ditukar dengan rupiah?

Sampai saat ini memang kita belum menemukan adanya lembaga penelitian yang melakukan survey mengenai perubahan paradigma semacam itu. Namun berdasarkan asumsi, mungkin ada beberapa sebab, mengapa para pentolan mahasiswa itu sanggup melacurkan. Pertama, adalah karena adanya kesulitan ekonomi. Antara kebutuhan dan ketersediaan dana tidak seimbang, terlebih bagi mahasiswa yang hidup di kota besar, semacam Jakarta. Kondisi semacam inilah yang memaksa para mahasiswa mencari jalan keluar paling mudah, yakni dengan menjual idealisme semacam tadi.

Kedua, adalah karena peluang pekerjaan yang semakin sempit. Untuk masuk perguruan tinggi, sulit tetapi masih dapat dicapai. Persoalan muncul adalah ketika mereka lulus dari perguruan tinggi. Sebab antara peluang pekerjaan dan jumlah angkatan kerja tidak seimbang. Ketakutan bahwa setelah lulus kemungkinan mereka akan menjadi pengangguran, barangkali yang mendorong mahasiswa untuk bersikap lebih realistis. Mereka rela melupakan idealisme, jika ada tawaran menarik untuk masa depannya.

Ketiga, adalah karena sudah tidak ada atau minimnya ketauladanan di kalangan mahasiswa. Contohnya, dulu sebelum tersandung kasus korupsi di Komisi Pemilihan Umum (KPU), Mulyana W Kusuma adalah salah satu dosen dan “senior” yang dipuja para yuniornya. Karena pikiran-pikirannya yang kritis kepada pemerintah. Sikap hidupnya—yang waktu itu—cukup dianggap idealis adalah seorang tauladan yang pas. Namun ternyata setelah dia bergelimang dengan uang, tidak jauh bedanya dengan para koruptor yang lain.

Dan masih banyak tokoh mahasiswa lain yang diawalnya berteriak-teriak menyuarakan idealisme. Namun begitu ada kesempatan, dan diiming-imingi jabatan yang bagus, mereka kontan tekuk lutut menjadi Pak Turut. Contoh atau ketauladanan semacam inilah yang mendorong muncul tokoh-tokoh mahasiswa avonturir. Mereka mau bergerak atau tidak bergerak selalu berkaca kepada adakah keuntungan materi buat mereka atau tidak. Karena situasi yang semacam inilah, sehingga gampang sekali mereka dibelokan kemana saja, tergantung yang berkuasa dan punya uang.

Kita akui, belum tentu semua mahasiswa berpendirian semacam itu. Kita juga yakin, mungkin masih banyak mahasiswa yang tetap idealis untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Hanya persoalannya public sudah terpatri dengan asumsi bahwa demo atau unjukrasa itu dianggap bernas atau berisi, jika demo itu dilakukan oleh mahasiswa dari kampus-kampus top. Tanpa kehadiran para mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan juga Institut Teknologi Bandung (ITB), serta lainnya. Dianggap demo yang dilakukan mahasiswa Aliansi 30 Kampus itu nantinya sebagai omong kosong. Sekarang, tinggal buktikan saja, siapa yang benar!

Sumber : Klik Disini

————————————————————————————————————————————————————————————————–

Semoga ini tidak menjadi indikasi matinya sikap kritis mahasiswa setelah era’98, karena kecenderungan kekuatan publik di Indonesia dipelopori oleh mahasiswa sebagai publik terpelajar dan mampu mengkritisi kebijakan pemerintah maka akan sangat disayangkan jika mahasiswa sebagai ujung tombak/corong rakyat malah gampang digembosi dengan “uang”, nilai 10 milyar pun tidak akan bisa menggantikan hancurnya bangsa ini jika tidak ada kekuatan public control…dan jika bangsa/negara “hancur” bukan hanya pekerjaan yang susah namun semua bidang akan rusak tak terkendali,semoga mahasiswa ingat ini, pertahankanlah idealisme-mu jika 1 pentolan bisa disuap bukan berarti mahasiswa lain juga bisa disuap bukan begitu??dan blopini yakin itu…

Salam

Blopini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: