Persfektif | Lembaran Baru Tentang Integritas

Jakarta – Tahun 2009 menghilang dan tahun 2010 datang. Teman-teman Nihonjin umumnya merayakan tahun baru dengan keluarga mereka. Bahkan, tidak sedikit yang pulang kampung karena tahun baru termasuk dalam agenda liburan musim dingin yang sudah dimulai sejak tanggal 28 Desember sampai 4 Januari. Meski beberapa mahasiswa masih sibuk bekerja dengan penelitiannya namun secara resmi kampus sudah libur dan semua pintu sudah dikunci.

Suatu sore saya bermaksud memberikan bingkisan kepada satpam kampus yang malam itu tidak bisa menikmati malam tahun baru dengan keluarganya. Saya sudah menyiapkan beberapa bingkisan untuk beberapa satpam yang bertugas. Namun, sayang. Semua bingkisan itu harus saya bawa pulang kembali ke rumah karena satpam-satpam itu kompak untuk menolaknya.

Saat saya akan memberikan bingkisan-bingkisan tersebut apa jawab mereka. “Maaf, kami tidak boleh menerima bingkisan apa pun dari mahasiswa!” begitu jawab mereka serempak.

Buat kita yang di Indonesia mungkin dengan cepat akan berfikir. “Yaa .. wajar saja, satpam di Tokyo kan gajinya besar.” Karena pada umumnya kita selalu berapologi terhadap kelemahan kita karena kita merasa gaji, fasilitas, atau fasilitas kesejahteraan kita yang minim.

Lihat pegawai-pegawai birokrasi kita. Dengan alasan gaji kecil maka menerima bahkan meminta “tip” sebagai hal yang wajar. Lihat dosen dan peneliti kita. Lihat aparat penegak hukum kita. Dengan alasan kesejahteraan yang kurang memadai maka jual beli perkara dianggap hal yang biasa. Lihat dokter-dokter kita. Dengan alasan rumah sakit tidak membayar dengan cukup maka “kongkalingkong” dengan perusahaan obat seolah hal yang wajar. Dan, banyak lagi.

Pertemuan saya dengan satpam yang menolak bingkisan saya tadi meyakinkan saya bahwa alasan gaji kecil yang sering kita pakai untuk membenarkan pungutan liar, pemerasan, malpraktek, dan lain sebagainya sebenarnya hanyalah cara kita untuk menutupi integritas kepribadian kita yang lemah. Kalau dibandingkan secara nominal memang benar gaji satpam di tokyo berkali lipat lebih besar dari gaji satpam di Indonesia. Tapi, jangan lupa biaya hidup di Tokyo juga berkali lipat lebih tinggi dari biaya hidup di Indonesia.

Satpam di Tokyo juga merasakan susahnya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebagaimana yang dirasakan oleh kebanyakan “orang susah” di Indonesia. Tapi, mengapa mereka bisa dengan tenangnya menolak bingkisan dari mahasiswa? Itulah integritas kepribadian yang mereka miliki. Aturan profesi mereka mengatakan bahwa saat berjaga tidak boleh menerima apa pun dari mahasiswa, dan mereka patuh pada aturan main yang sudah dimandatkan.

Tak peduli malam tahun baru tidak ada orang di kampus. Tidak peduli betapa mereka ingin berkumpul bersama keluarga saat orang-orang lain juga melakukannya. Tidak peduli betapa dinginnya cuaca di Tokyo hari ini mereka tetap komit pada aturan main yang mereka pahami.

Jika seorang satpam yang terus berjuangan untuk menyambung hidup sehari-hari mampu menjaga integritas pribadi dan profesinya maka tidak ada alasan yang layak bagi pejabat-pejabat di brikorasi kita, menteri-menteri kita, aparat-aparat hukum kita untuk menggadaikan integritasnya.

Sangat memalukan kalau ada pejabat-pejabat publik yang bersedia menerima uang dari seorang buronan Negara, koruptor BLBI yang telah menguras uang rakyat. Sangat memalukan jika ada pejabat otoritas moneter yang sudah bergaji besar masih bermain mata dengan perampok uang Negara dengan membuat aturan yang memuluskan jalannya perampokan.

Sekali lagi ini bukanlah soal gaji. Bukan soal fasilitas atau pun kesejahteraan yang kurang. Melainkan masalah integritas kepribadian yang memang amburadul.

Semoga di tahun yang baru ini kita bisa memulai lembaran-lembaran baru kita. Lembaran-lembaran baru tentang integritas pribadi dan profesi kita yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih taat aturan.

Mukhamad Najib
The University of Tokyo, 4-6-41 Shirokanedai, Minato-Ku
mnajib23@yahoo.com
+81-90-982-10-982

Sumber :

Cek Disini

———————————————————————————————————————————————————-
Semoga menjadi contoh dan inspirasi bagi blopini, pembaca blopini dan tentunya Bangsa Indonesia tercinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: