Info | TNI dihancurkan dari dalam??

INILAH.COM, Jakarta – Sejumlah perwira tinggi di tiga angkatan resah. Penempatan mantan Kepala Polisi RI sebagai Kepala Badan Intelijen Nasional membuat kekuatan militer merasa digembosi.

Beberapa perwira tinggi (pati) di tiga unsur angkatan (darat, laut, udara) menyampaikan uneg-uneg kepada INILAH.COM, Senin (25/10) malam.

Intinya pembicaraan adalah pengangkatan mantan Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto sebagai Kepala BIN membuat konsolidasi di tubuh militer menjadi bergejolak.

“Intelijen adalah institusi yang melekat pada militer. Kalau kepalanya dijabat dari kalangan nonmiliter, ini akan membuat sistem informasi intelijen dan sejumlah kebijakan di penggalangan intelijen di lapangan menjadi lemah,” kata seorang pati yang tidak bersedia disebut namanya.

Sepanjang sejarah nasional, intelijen adalah pengendali dan pemberi informasi utama kepada Presiden RI. Tugasnya sangat vital karena informasi itu akan menjadi landasan bagi Presiden untuk mengambil keputusan.

“Nah, kalau orang nomor satu di intelijen itu nonmiliter, maka deteksi dan analisis terhadap pergolakan di tingkat lapangan menjadi kurang tajam. Selama ini yang memiliki pendidikan dan kapasitas melakukan deteksi konflik atau membaca potensi bahaya keamanan adalah militer,” katanya.

Karena itu, sejak intelijen dibentuk di Indonesia, orang yang memimpin selalu berasal dari kalangan militer.

Pada zaman Bung Karno, kepala intelijen dipegang sipil. Hasilnya intelijen malah dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis, bukan untuk kepentingan keamanan dan pertahanan nasional.

“Intelijen bertanggung jawab langsung kepada presiden. Intelijen memiliki tipikal sangat berbeda dengan institusi keamanan lain. Sistem kerja utamanya adalah silence operation. Target kerja intelijen adalah meredam kejadian sebelum menjadi bahaya bagi keamanan nasional,” katanya.

Selain itu, doktrin militer dan nonmiliter berbeda. “Ini akan terkait dengan setiap operasi intelijen. Kalau bukan dari kalangan militer, target dan kepentingannya akan berbeda. Sebab doktrin militer itu jelas: keamanan dan keselamatan negara di atas segalanya,” kata perwira itu.

Pengangkatan Jenderal (purn) Polisi Sutanto oleh Presiden SBY sebagai Kepala BIN, bagi para perwira tinggi di tiga angkatan, mulai menimbulkan keresahan. Meski loyalitas dan kontribusi Jenderal (pur) Sutanto kepada Presiden SBY dinilai tinggi, tapi penunjukan Sutanto sebagai Kepala BIN bisa dibaca oleh kalangan perwira militer sebagai ketidakpercayaan Presiden SBY kepada institusi militer Indonesia.

Sebuah sumber menyebutkan, sebelum Jenderal (pur) Sutanto ditunjuk, sempat muncul nama Letjen Sudrajat, mantan Direktur Jenderal Strategi Pertahanan Dephan untuk menduduki posisi Kepala BIN. [mor]

sumber: http://inilah.com/berita/politik/200…ni-bergejolak/

Karir Sutanto:
* Pamapta Konwiko 74 Jakarta Selatan (1973-1975)
* Kapolsek Metro Kebayoran Lama (1978-1980)
* Kapolsek Metro Kebayoran Baru (1980)
* Kepala Detasemen Provoost Polda Jatim (1990-1991)
* Kapolres Sumenep, Jawa Timur (1991-1992)
* Kapolres Sidoarjo, Jawa Timur (1992-1994)
* Paban Asrena Polri (1994-1995)
* Ajudan Presiden Soeharto (1995-1998)
* Waka Polda Metro Jaya (1998-2000)
* Kapolda Sumut (2000)
* Kapolda Jatim (17 Oktober 2000-Oktober 2002)
* Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (24 Oktober 2002-28 Februari 2005)
* Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (28 Februari 2005-Juli 2005)
* Kapolri (8 Juli 2005-30 September 2008)
* Komisaris Utama PT Pertamina (Januari 2009-21 Oktober 2009)
* Kepala Badan Intelijen Negara (21 Oktober 2009)

____________________________________________________________

Sebuah keanehan dimana semakin banyak gugurnya prajurit TNI dalam tugas namun buan di medan perang melainkan begitu banyaknya kecelakaan-kecelakaan akibat Alutsista yang sudah usang, tua, bobrok, karatan. Apalagi setelah banyaknya negara tetangga yang mulai menunjukkan kalo tidak bisa dibilang memamerkan kekuatan dengan menggangu wilayah NKRI yaitu dengan banyaknya pelanggaran-pelanggaran perbatasan negara, Bangsa ini hanya mampu berkata kita harus menempuh jalur diplomasi. Coba bayangkan jaman Soekarno dan Soeharto (TNI) bagaimana begitu kuat dan digdayanya TNI saat itu sehingga Negara ini pernah disebut Macan ASIA, nah keanehan makin terkuak ketika seorang prajurit TNI (mantan) memimpin bangsa ini melakukan kebijakan-kebijakannya untuk pertahanan dan keamanan negara malah mengkerdilkan TNI sebagai pertahanan pertama Negara dan itu bukan Polisi.

Ingat waktu ada bencana?? Ingat waktu ada pemberontakan?? siapa yang pertama ada dilokasi?? TNI ya TNI lah yang selalu terdepan ketika Bangsa ini dalam musibah atau masalah bukan yang lain, atau memang TNI mau diarahkan menjadi basarnas saja???

Blopini tidak menkritik atas pengangkatan Sutanto namun ada banyak kebijakan RI-1 yang tidak memihak pada TNI, namun blopini tetap berharap TNI tidak melakukan hal-hal yang merusak pandangan rakyat terhadap TNI, kami Rakyat Indonesia ada bersamamu prajurit, bersabarlah dalam keprihatinan senjata, keprihatinan gaji (berbeda dengan polisi yang dianak emaskan padahal seperti kita tahu polisi bagaimana??), keprihatinan kebijakan, dll.

Nanti kalo udah pensiun atau jadi wakil rakyat, ya belalah almamaternya jagan kayak sekarang hehehe….

TNI rakyat bersamamu

ANEH……..bukan???

Suplement : Kopassus dengan perekrutannya
Salah satu pasukan TNI yang disegani negara di dunia dengan segala keterbatasannya. Lihat videonya bagaimana kia terharu melihat para prajurit digembleng dengan keras (kao ga bisa disebut brutal dibanding pasukan khusus negara lain) sehingga menghasilkan prajurit yang handal dalam medan pertempuran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: