Bagus untuk dibaca!!! (part II)

Sambungannya…..

PB Wrote :

bang Anton wrote:
saya juga menjelaskan di thread yang lalu bahwa batas pelaksanaan demokrasi adalah hukum (yang secara teoritis dibentuk oleh orang-orang pilihan rakyat secara demokratis itu sendiri) . Apa mau disangkal mengenai hal yang ini

PB: Kalo anda ngueyelnya ke masalah hukum, ya ndak usah ngomong lah. Kalo Aceh udah kayak gitu, mau ngomong gimana lagi. Kalo endonesha sudah berhukum syariat, buat apa kita diskusi di sini. Kita kan argumennya di ruang pra-syariat (sebelum endonesha jatuh di jurang syariat). Justru yg saya mau, jangan sampai muslim2 jadi ‘potential accomplice’ yg membiarkan hantu2 syariat mentalebanisasi endonesha. Ngarti gak sih sampe sini?

Quote:
betul itu tapi landasan kenapa dan apa pasti akan disesuaikan dengan hukum dan situasi serta kondisi di negara yang bersangkutan

PB: Lagi2 anda kayaknya gak nangkep maksud thread ini. Esensi kejadian larangan oleh pak walikota di Belgia ini, sekali lagi menyiratkan bhw dalam sebuah negara demokrasi, pemerintah itu kadang exercise their power utk political interest nya. Dalam hal ini, walikota mem-ban hak rally kelompok anti islam (baca: anti taleban) utk maintain order (juga karena fear of backlashes dari kelompok muslim, berkaca dari kasus kerusuhan besar di Perancis bbrp minggu lalu).

Jadi point saya adalah G-nya endonesha, seharusnya mengedepankan keamanan dan kestabilan nasional yg berdiri di atas semua golongan sesuai dasar negara pancasila sila ke 3: persatuan bagi endonesha. Kecuali sila 1 diartikan ketuhanan yg maha esa bagi orang islam doank:D .

Quote:
Belgia boleh melarang hal yang menentang Theokrasi dengan alasan apapun , tapi apakah berarti Indonesia harus mengikuti yang sama .

PB: Makanya saya minta anda berkaca soal theokrasi yg begitu jahat dulu di abad pertengahan. Bukan soal belgia nya. Endonesha emang ndak harus mengikuti, tapi endonesha harus tahu mudorotnya theokrasi. Itu saja.

Quote:
hua hua .. mengaca , mengaca pada apa .. Belgia , kemarin saya disuruh berkaca ke Singapore , Belgia dan bahkan Malaysia yang dulu anda tentang karena menerapkan Syariah Islam (ingat kasus suami Hindu meninggal dimakamkan secara Islam) ..

PB: Ya, berkaca dan berkaca. Ndak ado salahnya kan? Belajar dari pengalaman orang lain dan kesalahan orang lain. Ada yg salah?

Quote:
Pengerasan juga terkait sama sikap anda , apakah anda mampu membawa kemakmuran kepada masyarakat lainnya sehingga mereka berpandangan bahwa kemajemukan harus dijaga

PB: ??? Is this all what you are up to? Jadi memahami wacana nyariatisasi karena ‘kesalahan saya dan cina2 lain’ tidak bisa memakmurkan orang miskin?

Quote:
anda sibuk makan kepiting 3 juta .. sedangkan tetangga di tempat lain makan tempe .. kemudian mau ikutan gerakan penerapan SI saking pengen cepet makmurnya .. Jangan hanya lempar ke umat muslim , karena anda toch bagian dari Indonesia juga .. tanggung jawab anda ada . Jangan cuma bilang dan tereka save Indonesia ..

PB: Busetttt..kepleset makan kepiting 3 jeti dibilang ‘sibuk makan kepiting 3 juta’. Jauh banget bang. Kok jadi ahli plintir,bang?

Tapi saya mau sudahi diskusi ini karena sudah ngelancir ke mana2. Saya berharap diskusi dgn anda bisa melahirkan sinergi atau minimal kesimpulan apa yg bisa dipikirkan bersama mencegah endonesha jadi kuburan syariat. Kalo anda menggiring subject syariat ini ke masalah kemiskinan dgn kaitan kesalahan/tg jawab ke saya (cina2 lain), ya saya sudahi diskusi ini.

Terima kasih atas waktunya, bang.

PB

Arga Sakti Nasution Wrote :

Sayang harus dihentikan karena ini bisa jadi pembelajaran, soal menilai mana yang benar saya pikir cuma masyarakat yang bisa menilai, Demokrasi adalah sistem kemayoritasan jadi jika suatu bangsa berlandaskan demokrasi maka harus berjalan sesuai keinginan mayoritas…..(jika mau bicara demokrasi ya….jangan demokrasi bermuka dua satu sisi bicara layaknya aktivis demokrasi di sisi lain tidak. Tapi yang terpenting demokrasi tidak bisa meminggirkan dan meninggalkan minoritas karena minoritas juga elemen dari demokrasi itu sendiri

Note : Islam pun mengenal demokrasi dalam tatanan hukum syariat sebenarnya bukan buatan manusia (orang-orang yang memanfaatkan isu syariat untuk kepentingan sendiri)

Silahkan untuk berdiskusi lebih lanjut….. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: