Pemimpin jelek rakyat menderita

Apakah menghalangi seorang pilot yang sedang sakit permanen (sehingga tidak dapat melihat lagi) namun bersikeras ingin mengemudikan pesawat terbang penuh penumpang itu termasuk melanggar HAM? Jawabannya tidak, sama sekali tidak. Justru kita telah sungguh-sungguh melanggar HAM bila kita tidak berupaya menghalanginya. Memang adalah hak asasi setiap orang untuk mengemudikan pesawat terbang. Mungkin saja hak setiap orang untuk bunuh diri. Namun bukan hak setiap orang untuk mencelakai orang orang lain, walau mungkin saja tanpa disadarinya. Karena dalam kehidupan ini hak asasi manusia tidak berdiri sendiri. Hak asasi bisa ditunaikan bila tidak mengganggu hak asasi orang lain dan juga tidak melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Membiarkan seorang pilot yang karena sakit permanen lalu kehilangan kemampuan melihat, untuk mengemudikan pesawat terbang adalah tindakan yang mencederai hati nurani.
Hal ini akan membahayakan sang pilot dan ratusan penumpang yang lain serta penduduk yang mungkin saja tertimpa pesawat itu nantinya. Mungkin saja dulunya sang pilot merupakan penerbang yang handal. Mempunyai pengalaman terbang ribuan jam. Mengemudikan berbagai jenis pesawat baik komersial maupun pesawat tempur dari Boeing 747 sampai dengan Sukhoi. Namun setelah ia kehilangan kemampuan meliha maka hak asasinya menjadi pilot telah hilang, karena terhalang oleh hak asasi penumpang ingin terbang dengan selamat dan pihak-pihak lain di wilayah lintasan penerbangan yang tidak ingin terusik kenyamanannya. Sang pilot kini telah menjadi “mantan” yang hanya punya hak asasi sebagai penumpang.
Jabatan presiden bukan jabatan main-mainan yang dapat diduduki oleh semua orang. Pada sistem presidensil seperti Indonesia, presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Kepala negara haruslah mencitrakan bangsa yang dipimpinnya. Oleh karena itu presiden dituntut sesempurna mungkin karena menyangkut citra bangsa di forum internasional. Selanjutnya sistem presidensil memberikan kekuasaan yang sangat besar bagi presiden. Maka presiden harus benar-benar sehat baik fisik dan mental. Kekuasaan ditangan orang yang sakit permanen akan sangat berbahaya. Bila ia sakit fisik maka kekuasaan akan dimanfaatkan oleh orang-orang dekatnya, karena keterbatasannya dalam pengawasan. Sedangkan bila sang presiden kurang sehat mentalnya, ia sendiri yang akan menjerumuskan bangsa ini dengan keputusan-keputusan yang “aneh-aneh”. Apalagi Indonesia masih di”azab” oleh krisis.
Orang yang benar-benar sehat saja belum tentu berhasil, konon pula orang sakit. Oleh karena itu keputusan KPU mengeluarkan surat keputusan tentang persyaratan kesehatan fisik dan mental Capres bisa diterima. Walau hal ini masih bisa diperdebatkan, namun secara subtansi sudah tepat. Dapat dimaklumi adanya pemikiran bahwa dalam soal capres diserahkan saja kepada “mekanisme pasar” demokrasi. Aliran ini berpandangan bahwa demokrasi harus dijalankan secara “kaffah”. Jadi biarkan saja semua capres ikut pemilihan presiden, tanpa harus ada prasyarat kesehatan, asalkan dicalonkan oleh partai yang sudah memenuhi syarat untuk mengajukan calon. Mereka menganggap rakyat sudah pintar berdemokrasi. Siapa saja bisa dipilih walau anak bayi sekalipun bila ia dikehendaki oleh rakyat. Mereka mengatakan bahwa hal itu harus diterima sebagai konsekuensi logis pilihan berdemokrasi.

Pendapat di atas tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Perlu dipikirkan lebih dalam bahwa tujuan diadakannya pemilihan presiden adalah mencari seorang pemimpin negara yang mampu mewujudkan cita-cita (baca: visi dan misi) bangsa. Paling tidak meletakkan dasar-dasar yang kuat untuk mewujudkan tujuan jangka panjang itu. Dalam jangka pendek mampu mengeluarkan Indonesia dari krisis akut yang hampir membuat frustasi bangsa. Kerusuhan tidak kunjung selesai. Aceh belum sembuh total, Ambon memanas lagi. Ekonomi belum membaik, korupsi terus menikam jantung negara ini. Maka tidak bisa tidak. Negara ini membutuhkan seorang yang benar-benar tangguh baik fisik maupun mental, kemudian mau dan mampu memikirkan negara dan bangsa ini 24 jam. Bukan sebaliknya negara dan bangsa ini 24 jam mengurusi sang presiden. Presiden yang sakit-sakitan, selain tidak produktif juga tidak efisien. Karena biaya kesehatan presiden ditanggung oleh negara, maka akan dikeluarkan biaya milyaran untuk mengobatinya.

sumber : pintunet.com

One Response to “Pemimpin jelek rakyat menderita”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: