Info | Apakah ulama benar semua?

Apakah ulama benar semua?
Opini – Artikel

ARIFIN S. SIREGAR

Anda mengatakan tidak boleh mempertentangkan/membandingkan ibadah ulama dengan ibadah Nabi SAW, di mana anda menuduh merupakan bentuk penyesatan, (Waspada tgl 30-10-‚09). Saya tanya : kalau begitu amal ibadah/aqidah seorang ulama, untuk tau salah atau benar, kepada siapa harus kita rujuk?

Apakah kepada antar-ulama atau kepada mazshab? Adalah kebijakan seperti itu tidak mempedomani firman Allah SWT (QS An Nisa’ 59). Inilah yang merupakan ke-sesatan. Dan kebijakan seperti itu tidak akan selesai atau tidak memberi jawab-an siapa yang benar, karena sifat jawabannya subjektif.

Tapi bila merujuk membandingkan/mempertentangkan dengan aqidah/ibadah Nabi SAW, maka akan ketahuan apakah aqidah/ibadah ulama itu benar atau salah. Karena rujukannya objektif. Misalnya seorang ulama berbuat shalat qabliyah Jumat, untuk mengetahui apa itu benar atau salah, rujuklah (bandingkanlah) dengan tuntunan atau pelaksanaan shalat Jumat yang dicontohkan Nabi SAW.

Ternyata Nabi SAW tidak melakukan shalat qabliyah Jumat. Tentunya sesuai petunjuk Nabi SAW, merupakan amalan bid’ah (sesat). Barangkali takutnya anda-anda merujuk/membandingkan/ mempertentangkan aqidah/ ibadah anda dengan ibadah/aqidah Nabi SAW, pertanda anda takut ketahuan “segudang” yang anda katakan ibadah/ aqidah, tapi rupanya sesuatu yang haram/sesat/bid’ah/syirik, sesuai H.R Muslim, atau Kaidah Ushul Fikih ?

Kita akui ulama adalah pewaris Nabi SAW. Tapi ulama yang mana ? Nabi SAW menyatakan ulama ada 2 macam, yaitu ulama yang hak (benar) dan ulama syuk (ulama yang menyesatkan). Untuk mengetahui mana ulama yang benar (pewaris Nabi SAW), mana ulama syuk (yang menyesatkan), tentu harus ada pengkajian/penelitian.

Tidaklah ulama itu benar semua !! Ada yang menamakan dirinya ulama, tapi korupsi. Ada kita anggap ulama besar, tapi berlaku syirik (membongkar kuburan mencari kekeramatan kuburan seseorang (di Jawa Barat). Atau dirinya ulama, tapi berlaku bid’ah (sesat, misalnya menyatakan ada Nabi lagi atau menerjemahkan Fatihah sebagai imam shalat).

Pengkajian penelitian mengetahui kebenaran aqidah/ibadah seseorang, tentu perlu dirujuk ke Allah (Al-Quran) dan Rasul-Nya (Sunnah), sesuai perintah Allah SWT pada QS An Nisa’ 59 di mana Allah SWT menyuruh bila kamu berbeda pendapat kembalilah (rujuklah) ke Allah dan Rasul-Nya. Bukan ke ulama.

Berarti aqidah/ibadah seseorang ulama, harus dibandingkan dengan aqidah/ibadah petunjuk Nabi SAW. Bila anda keberatan di hadapkan amalan/ibadah/aqidah seorang ulama kepada Allah dan Rasul- Nya, berarti anda melarang/menolak suruhan/ pedoman yang diterangkan Allah SWT pada QS An Nisa’ 59. Ini yang namanya kesesatan/ syirik/bid’ah.

Tidak Sepelekan Ulama Kita tidak menyepelekan ulama. Karena dari ulamalah kita tau Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. Tapi tentunya yang kita pedomani ialah ulama yang pewaris Nabi SAW, yaitu yang menyampaikan pada kita aqidah/ibadah yang disunnahkan Nabi SAW. Meskipun ulama itu jebolan Mesir, Kuwait/Saudi Arabia atau bertitel LC, Drs, MA, Prof, Kiyai, bukan ukuran suatu kebenaran.

Kebenaran bila ia menyampaikan Al- Quran dan Sunnah Nabi SAW. Jangan pandang enteng pada ulama yang bukan jebolan Timur Tengah atau kamikami yang bukan ulama. Kami punya nalar yang tinggi, daya kritik yang tidak dibimbing oleh sifat taqlid. Kami bilang salah bila salah. Kami bilang benar bila benar sesuai Al-Quran dan Sunnah, meskipun yang menyampaikan itu tukang baca, petani, dsb.

Kami juga belajar, membaca bukubuku karangan ulama-ulama hebat terkenal di dunia seperti Imam Ibnu Taimiyah, Syahid Sabiq, Imam Syafii (Al-Um), Prof.Hasbi Ash Siddiqi, Syeikh Ali Mahfuzd, K.H Monawar Khalil, Latif Rusdy, A.Hasan, fatwa-fatwa Syeikh Abd.Azis bin Abdullah bin Baz, dsb. Belum tentu ulama rujukan anda lebih pintar dari ulama rujukan kami.

Atau buktikan kalau ada penyampaian kami yang salah atau aqidah/ibadah yang kami sampaikan salah. Mari kita buka forum diskusi terbuka adu argumentasi untuk itu. Disiarkan oleh radio, koran dan TV. Jangan berondok seperti katak di bawah tempurung. Janganlah pandang siapa kami (siapa yang menyampaikan), tapi pandanglah apa yang kami sampaikan.

Tunjukkan mana yang salah. Bila ada, kami akan rujuk. Tidak ada, berarti kami benar. Memang ada Hadis yang berbunyi, di mana Nabi SAW bersabda : “Ikutlah Sunnahku dan Sunnah khullafurrasyidin yang mendapat petunjuk“. Anda mesti jeli dan hati-hati mempedomani makna Hadis ini.

Kita tidak boleh gegabah menafsir Hadis ini. Apakah anda berpendapat di mana sudah ada petunjuk Nabi SAW, tapi diambil/ didulukan mengamalkan petunjuk sahabat? Berarti anda menolak H.R Muslim : “Semulia-mulia petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW“. Apakah anda percaya berani Abubakar Syiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib menciptakan aqidah/ ibadah baru ? Misalnya menambah “syaidina“ pada syalawat ? Atau membuat shalat qabliyah Jumat ? Atau membuat azan shalat Jumat 2 kali sesudah masuk waktu dan keduanya di masjid?

Atau Nabi SAW menyatakan “setiap bid’ah sesat”, maka sahabat yang 4 membaginya menjadi ada bid’ah hasanah, ada bid’ah makruh ? Padahal ini semua terjadi adalah pekerjaan ulama belakangan yang mengada-ada. Jangan fitnah sahabat Khulafaur Rasyidin. Bukan mereka yang membuat itu !!

Banyak bukti di mana sahabat yang 4 itu taat dan setia pada petunjuk Nabi SAW. Satu bukti sahabat menyadari mereka tidak punya hak untuk menciptakan ibadah/aqidah. Contoh : Dengan turunnya perintah melalui QS Al Ahzab 56 menyuruh sahabat untuk bersyalawat pada Nabi SAW, mereka tidak bertindak gegabah bersepakat menciptakan bunyi syalawat yang akan diucapkan pada Nabi SAW, tapi mereka datang menemui Nabi SAW minta petunjuk bagaimana bunyi syalawat yang akan mereka ucapkan.

Maka Nabi SAW mengajarkan : “Allahuma shalli ala Muhammad, wa ala Ali Muhammad”. Mereka harus menunggu petunjuk Nabi SAW. Atau tidak ada sahabat yang bersyalawat dengan tambahan “syaidina”. Atau tidak ada sahabat yang menggelar Nabi SAW dengan panggilan: “Ya syaidina Muhammad, bolehkah kami ..…. dst”. Banyak contoh yang lain, di mana khusus masaalah aqidah/ibadah, sahabat menunggu petunjuk Nabi SAW.

Kalau yang seperti anda maksudkan, di mana makna Hadis itu meskipun ada petunjuk Nabi SAW (11 rakaat taraweh), tapi kita dulukan atau kita pilih mengamalkan yang 23 rakaat shalat taraweh, ini bimbingan sesat dan sangat bertentangan dengan QS An Nisa’ 59 dan HR Muslim di atas (yang menyuruh kembali pada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian yang dinyatakan semulia-mulia petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW). Maksud Hadis itu adalah : bila ada satu amalan muamalah yang (bukan aqidah/ibadah) yang perlu diamalkan, tapi kebetulan tidak dijumpai petunjuk/ contoh dari Nabi SAW, tapi ada petunjuk sahabat, maka boleh ikut petunjuk sahabat.

Jangan Fitnah Umar RA Oleh Syekh iman Nashiruddin Albani, ulama besar penyeleksi Hadis terkenal dari Timur Tengah, menyatakan: Umar memerintahkan shalat (malam/ taraweh) 11 rakaat. Sahabat Umar bin Khattab RA tidak benar melakukan 23 rakaat, itu fitnah.

Terbukti dari atsar berikut (Atsar Malik-Al Muwath-Tha’ I : 137- 138) : Dari Muhammad bin Yusuf dari as-Saaib bin Yazid bahwasanya ia berkata : “Umar RA telah memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Daary mengimami orang-orang dengan 11 rakaat(shalattaraweh).

Ia berkata : Imam pada waktu membaca ratusan ayat, sehingga kami bersandar dengan tongkat karena lamanya berdiri, dan kami tidak selesai kecuali menjelang fajar”. Kemudian imam Nashiruddin Albani menyatakan lagi : Umar tidak pernah shalat 20 rakaat. Atau dinyatakannya lagi : Tidak ada sahabat yang shalat malam (taraweh) 20 rakaat. (lihat kitab : “KELEMAHAN RIWAYAT TARAWEH 20 RAKAAT” hal 33-51 oleh Syekh iman Nashiruddin Albani).

Semua riwayat yang menyatakan Umar RA mengamalkan 23 rakaat adalah palsu. Kemudian bila menurut anda yang 23 rakaat itu ciptaan Umar RA, maka yang 26,36,40 rakaat itu ciptaan siapa? Berarti yang 23 itu bukan ciptaan Umar RA juga. Maka terjebak pada bid’ah (sesat), sesuai H.R Muslim : “Sesungguhnya barang siapa mengerjakan amalan (aqidah/ibadah) yang tidak ada petunjuk kami, maka yang diamalkan itu tertolak (bid’ah)”.

Dan juga sesuai Kaidah Ushul Fikih : “Sesungguhnya ibadah itu haram, kecuali ada petunjuk Nabi SAW”. Kemudian sdr Nasir mengatakan shalat taraweh 23 rakaat telah disepakati sahabat, itu bohong besar. Tolong anda berikan argumentasinya (atsarnya). Padahal orang-orang pada masa Umar bin Khattab RA, masa Umar bin Affan RA, masa Ali bin Abu Thalib RA dan masa Iman Mazhab jumlah shalat Taraweh bermacam-macam, ada yang 21 rakaat, ada yang 23 rakaat, ada yang 26,36, 40,47,49 rakaat, dsb.

Apakah itu termasuk kebijakan Umar RA ? Pertanda itu hasil ijtihad ulama-ulama. Juga berarti tidak ada kesepakatan ulama berapa yang terbaik jumlah rakaatnya. Berarti anda berbohong menyatakan 23 rakaat adalah kesepakatan ulama.

Sumber : Klik Disini

————————————————————————————————-

Masih tentang tulisan Bpk. Arifin S Siregar.

Blopini

About these ads

One Response to “Info | Apakah ulama benar semua?”

  1. m akmal Nasution Says:

    Saya sangat bahagia dengan pencerahan pak Arifin yang sangat lugas sesuai dengan Qur’an dan hadist, mempunyai nalar yang mudah dipahami.
    Jazakallah
    ——————————————————————————————————————-
    Semoga bermanfaat bagi Anda…..blopini akan coba terus menghadirkan tulisan-tulisan baik dari blopini atau orang lain untuk pencerahan bersama…

    Salam
    Blopini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 735 other followers

%d bloggers like this: