Biografi | Jenderal Besar Abdul Haris Nasution

Abdul Haris Nasution (1918-2000)
Jujur Pada Sejarah dan Nurani

Gaya hidup bersahaja dibawa Jenderal Besar A.H. Nasution sampai akhir hayatnya, 6 September 2000. Ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme. Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi. Namun Tuhan memberkatinya umur panjang, 82 tahun.

Pria Tapanuli ini lebih menjadi seorang jenderal idealis yang taat beribadat. Ia tak pernah tergiur terjun ke bisnis yang bisa memberinya kekayaan materi. Kalau ada jenderal yang mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya, Pak Nas orangnya. Tangan-tangan terselubung memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah Pak Nas pensiun dari militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, keluarga Pak Nas terpaksa membuat sumur di belakang rumah. Sumur itu masih ada sampai sekarang.

Memang tragis. Pak Nas pernah bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal Pak Nas sendiri menjadi tonggak lahirnya Orba. Ia sendiri hampir jadi korban pasukan pemberontak yang dipimpin Kolonel Latief. Pak Nas-lah yang memimpin sidang istimewa MPRS yang memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, tahun 1967.

Pak Nas, di usia tuanya, dua kali meneteskan air mata. Pertama, ketika melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi awal Oktober 1965. Kedua, ketika menerima pengurus pimpinan KNPI yang datang ke rumahnya berkenaan dengan penulisan buku, Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan.

Apakah yang membuatnya meneteskan air mata? Sebagai penggagas Dwi Fungsi ABRI, Pak Nas ikut merasa bersalah, konsepnya dihujat karena peran ganda militer selama Orba yang sangat represif dan eksesif. Peran tentara menyimpang dari konsep dasar, lebih menjadi pembela penguasa ketimbang rakyat.

Pak Nas memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomor wahid penguasa Orba. Namun sebagai penebus dosa, Presiden Soeharto, selain untuk dirinya sendiri, memberi gelar Jenderal Besar kepada Pak Nas menjelang akhir hayatnya. Meski pernah “dimusuhi” penguasa Orba, Pak Nas tidak menyangkal peran Pak Harto memimpin pasukan Wehrkreise melancarkan Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949.

Pak Nas dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya
melawan kolonialisme Belanda. Tentang berbagai gagasan dan konsep perang gerilyanya, Pak Nas menulis sebuah buku fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, jadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS). Dan, Pak Nas tak pernah mengelak sebagai konseptor Dwi Fungsi ABRI yang dikutuk di era reformasi. Soalnya, praktik Dwi Fungsi ABRI menyimpang jauh dari konsep dasar.

Jenderal Besar Nasution menghembuskan nafas terakhir di RS Gatot Subroto, pukul 07.30 WIB (9/9-2000), pada bulan yang sama ia masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ia nyaris tewas bersama mendiang putrinya, Ade Irma, ketika pemberontakan PKI (G-30-S) meletus kembali tahun 1965. Tahun 1948, Pak Nas memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang pernah 13 tahun duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Ia lalu menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan, sedang dalam persiapan. Masih ada beberapa bukunya yang terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).

Ia dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadat. Ayahnya anggota pergerakan Sarekat Islam di kampung halaman mereka di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Pak Nas senang membaca cerita sejarah. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini melahap buku-buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW sampai perang kemerdekaan Belanda dan Prancis.

Selepas AMS-B (SMA Paspal) 1938, Pak Nas sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang. Tetapi kemudian ia tertarik masuk Akademi Militer, terhenti karena invasi Jepang, 1942. Sebagai taruna, ia menarik pelajaran berharga dari kekalahan Tentara Kerajaan Belanda yang cukup memalukan. Di situlah muncul keyakinannya bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah.

Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, Pak Nas menarik pelajaran kedua. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Mtode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (948-1949).

Pak Nas muda jatuh cinta pada Johana Sunarti, putri kedua R.P. Gondokusumo, aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, Pak Nas gemar bermain tenis. Pasangan itu berkenalan dan jatuh cinta di lapangan tenis (Bandung) sebelum menjalin ikatan pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua putri (seorang terbunuh).

Pengagum Bung Karno di masa muda, setelah masuk di jajaran TNI, Pak Nas acapkali akur dan tidak akur dengan presiden pertama itu. Pak Nas menganggap Bung Karno campur tangan dan memihak ketika terjadi pergolakan di internal Angkatan Darat tahun 1952. Ia berada di balik ”Peristiwa 17 Oktober”, yang menuntut pembubaran DPRS dan pembentukan DPR baru. Bung Karno memberhentikannya sebagai KSAD.

Bung Karno akur lagi dengan Pak Nas, lantas mengangkatnya kembali sebagai KSAD tahun 1955. Ia diangkat setelah meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta. Pak Nas dipercaya Bung Karno sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja. Keduanya tidak akur lagi usai pembebasan Irian Barat lantaran sikap politik Bung Karno yang memberi angin kepada PKI.

Namun, dalam situasi seperti itu Pak Nas tetap berusaha jujur kepada sejarah dan hati nuraninya. Bung Karno tetap diakuinya sebagai pemimpin besar. Suatu hari tahun 1960, Pak Nas menjawab pertanyaan seorang wartawan Amerika, ”Bung Karno sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia, sebelum saya faham perjuangan kemerdekaan”.

————————————————————————————————————————————————————————————————–
AH Nasution

Biografi beliau :

Nama:
Abdul Haris Nasution
Pangkat:
Jenderal Bintang Lima
Lahir :
Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Meninggal:
Jakarta, 6 September 2000
Agama :
Islam
Istri:
Ny Johanna Sunarti

Pendidikan :
= HIS, Yogyakarta (1932)
= HIK, Yogyakarta (1935)
= AMS Bagian B, Jakarta (1938)
= Akademi Militer, Bandung (1942)
= Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962)
= Universitas Padjadjaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
= Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962)
= Universitas Mindanao, Filipina (1971)

Karir :
= Guru di Bengkulu (1938)
= Guru di Palembang (1939-1940)
= Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
= Dan Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
= Dan Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948)
= Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (1948)
= Panglima Komando Jawa (1948-1949)
= KSAD (1949-1952)
= KSAD (1955-1962)
= Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
= Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1962-1963)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
= Ketua MPRS (1966-1972)

Alamat Rumah :
Jalan Teuku Umar 40, Jakarta Pusat Telp: 349080

————————————————————————————————————————————————————————————————–

Blopini sedikit memberikan pengetahuannya tentang beliau, pencipta buku gerilya yang termasyhur apalagi jungle warfarenya…Pernah dapet cerita, katanya pernah pas Pak Nas lagi rapat sama perwira dan pejabat militer Soviet di soviet dulu, ketika tiba waktu sholat/ibadah beliau minta rapatnya di break agar bisa sholat dulu….bukunya menjadi standard perang gerilya dibeberapa negara..Pak Nas adalah tentara terbaik dan terloyal yang pernah dimiliki Indonesia .. dari perang kemerdekaan, Orla, Orba hingga akhir hayat beliau selalu disengsarakan hidupnya, dikucilkan dsb, tapi beliau tetap tegak berdiri membela NKRI .. Hidup Jenderal Besar (Purn) AH Nasution !! Jenderal besar yang tegas dan memiliki prinsip hidup yang jelas, plus jujur dan yang pasti seorang manusia yang hingga akhir hayatnya tidak membutuhkan penghormatan/kehormatan untuk diangkat menjadi “Pahlawan Nasional” seperti yang diributkan sekarang ini, tentang Gusdur dan Suharto oleh segelintir orang dan politikus-politikus bangsa ini.

Bangsa ini membutuhkan anak bangsa seperti ini, NKRI harga mati!!

About these ads

10 Responses to “Biografi | Jenderal Besar Abdul Haris Nasution”

  1. Adam Saleh Nasution Says:

    Selamat jalan Pak Nas,” Jasa Mu, akan kami kenang selamanya”.

  2. kemana lg kan di cari ? pengganti jendral ABDUL HARIS NASUTION, perjuangannya yg tanpa pambrih tanpa lelah dan letih,terharu km melihat perjuangannya walau badai dtng menghantamnya namun ia tetap tegar dan sabar…inilah jendral yg harus di contoh..jendral yg tak memandang materi n gaji.hidup n matinya hanya untuk rakyatnya.

  3. kemana lg kan di cari pengganti jendrak ABDUL HARIS NASUTION, perjuangannya yg tanpa pambrih tanpa lelah dan letih,terharu km melihat perjuangannya walau badai dtng menghantamnya namun ia tetap tegar dan sabar…inilah jendral yg harus di contoh.

  4. endang s bachri Says:

    hanya 4 jendral yang aku kagumi: Jend. AH Nasution, jend. Sudirman, Jend, Subroto, jendral Yusuf, bagi dok buku biografinya

  5. di indonesia belum ada jenderal yang bagus lagi selain……jenderal sudirman…dan jenderal nasution

  6. Sepertinya sangat perlu membuat hari Khusus tuk mengenang si Pak Nas (sang Pahlawan yg Tangguh)

  7. sebenarnya konsep dwifungsi ABRI yang dibuat oleh pak Nas sangat bagus tp oleh penguasa ORBA diselewengkan untuk kepentinganx sendiri.
    Tentang kembali ke UUD 45 jelas itu sebuah saran yg bagus tetapi seperti diatas kembali diselewengkan juga.

  8. Ini yang saya suka. Kepahlawanan yang tidak mengenal pamrih.
    Tapi ada 2 catatan tentang beliau ini yang saya sesali… Salah satunya sudah diceritakan dalam artikel di atas yaitu masalah dwi fungsi ABRI. Yang kedua adalah gagasan beliau sepulang dari Jepang untuk kembali ke UUD 45 (sekitar th 58-59) yang akhirnya disetujui bung Karno dengan melahirkan Dekrit Presiden Juli 1959.

    Salut untuk artikelnya.

    • mand41l1nc Says:

      Terima kasih untuk berkunjung kembali ke Blopini, manusia tidak terlepas dari kesalahan namun ada juga yang harusnya di contoh oleh semua tokoh Indonesia ketika melakukan kesalahan beliau langsung merasa menyesal dan meminta maaf dengan kstaria…lagipun mengenai dwi fungsi aku rasa konsepnya benar namun yang menjalankan konsepnya itu yang salah termasuk UUD 45 yang dipresentasikan secara serampangan sehingga akhirnya perlu ada amandemen-amandamen….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 734 other followers

%d bloggers like this: